Martin Heidegger: What is Being

Image            Pemikiran yang terkenal dari Heidegger adalah tentang being. Being yang dimaksudkan disini adalah sesuatu yang ada dalam diri itu sendiri yang berdiri sendiri. Untuk mengungkapkan kepada being itu sendiri, Heidegger menggunakan modus Dasein. Dasein berasal dari bahasa Jerman yang berarti keberadaan. Menurut Heidegger Dasein adala sebagai kemanfaatan atau tidaknya bagi yang lain. Dasein sendiri bisa menyadari keberadaannya melalui keterikatannya dengan dunia atau being yang lain. Karena Dasein merupakan being yang mempertanyakan dirinya yang diakibatkan oleh adanya kesadaran.

            Dasein dapat bereksistensi melalui dunia. Tanpa dunia Dasein tidak bisa mengada.  Dasein hanya dapat terlihat melalui entitas-entitas yang ada diluar dirinya. Dasein selalu mengerti dirinya dan kesadaran yang ada pada dirinya merupakan kesadaran dalam. Menurut Heidegger kesadaran subjek sifatnya tersembunyi dan hanya bisa tersibak dalam kegiatannya di dunia, begitupula hal nya dengan Dasein yang hanya bisa mengada melalui dunia ini.

            Dasein dapat ditelusuri melalui tiga pendekatan, yaitu melalui existence, facticity, dan falleness. Dalam existence, Dasein telah menyadari bahwa ia punya kebebasan untuk bertindak, memilih dan memiliki possibility. Dalam faktisitasinya ia tidak memilih untuk lahir ke dunia ini yang asing sehingga menyebabkan rasa ketakukan dan kecemasan (Verstehen). Falleness dimana manusia mengalami tahap ia harus terjatuh dan mengalami regresi.

  Dasein memilih untuk segala sesuatu itu ada daripada tiada, oleh karena itu, menurut Heidegger tanpa Dasein sesuatu itu menjadi tiada. Dari pendekatan-pendekatan yang ada, bagi Heidegger tidak ada yang benar-benar bisa menyentuh being itu sendiri.

 

Nietzsche: Herd Mentality and Master Mentality

Image

Bila diterjemahkan kalimat “Man is a rope stretched between the animal and the superman” akan menjadi manusia adalah jembatan yang terbentang antara hewan dan manusia unggul. Kalimat ini tertera dalam salah buku popular dari Nietzsche yang berjudul Thus Spake Zarathustra. Sebelum kalimat ini muncul, Nietzsche mengatakan God is dead! yang kemudian  menjadi terkenal seantero dunia. Dalam buku ini ada seorang manusia unggul yang ia ciptakan bernama Zarathustra. Manusia yang selama ini ia impikan, manusia yang bisa memenangkan dirinya sendiri.

Nietzsche menekankan pada kehendak manusia untuk mencapai kekuasaan sebagai kekuatan yang menggerakan dunia. Nietzsche juga menolak institusi agama karena agama membuat manusia tidak bebas dan menunjukan gugatan Nietzsche tentang manusia, kebebasan, dan tanggung jawab.

Nietzsche tidak menyukai manusia-manusia yang terkungkung dalam dogma-dogma agama yang berkasihan-kasihan, lemah, tidak bebas dan takut akan dosa. Menurut Nietzsche hal ini akan membatasi manusia dalam membentuk dirinya menjadi manusia unggul. Menurut Nietzsche agama hanyalah tempat pelarian bagi manusia untuk melemparkan tanggung jawabnya. Moralitas yang ada pada agama seperti untuk tidak membalas, berkasihan, kerelaan hati, hanyalah sifat-sifat dari budak. Oleh karena itu hadirlah konsep manusia unggul (ubermensch). Ubermensch yang dimaksud disini adalah manusia sesudah manusia yang kita kenal, yang merupakan manusia masa lampau dan masa sekarang yang ditandai oleh moralitas budak yang berakar dalam kepercayaan kepada Allah. “manusia diseberang manusia” ( Franz Magnis, Menalar Tuhan, 76).

Manusia unggul adalah manusia yang berani menghadapi dunia, yang tidak berpasrah diri pada dogma-dogma agama. Nietzsche ingin keluar dari keterbatasan dirinya. Konteks terpentingnya adalah “kehendak” itu sendiri. Seperti yang dikatakan oleh Nietzsche ada dua jenis manusia; Herd mentality dan Master mentality. Herd mentality hanyalah kerumunan untuk menjaga hidup dalam ketenangan, sedangkan master mentality adalah filsuf yang mempunya philo-nya sendiri. Untuk dapat menjadi manusia unggul diperlukan master mentality dimana manusia harus terbebas dari rasa berdosa dan kecemasannya untuk mengeksplor dirinya. Manusia juga mempunyai naluri alamiah seperti hewan. Naluri ini bisa digunakan manusia dalam menghadapi kehidupan yang penuh akan pilihan dan bahaya. Namun naluri ini sangat berbeda dengan yang dimiliki oleh hewan, manusia menggunakan naluri ini dengan menggunakan rasionya. Dengan menggunakan naluri alamiah yang berdasarkan rasio, manusia berusaha untuk menyebrangi atau melampaui manusia masa lampau dari sifat-sifat budak untuk memenangkan dirinya sendiri.

Relasi I-It I-Thou dengan Pohon Martin Buber

Martin Buber merupakan seorang yang religius. Bukunya yang paling terkenal adalah I and Thou. Dalam buku ini Buber mengajukan konsep utamanya berupa Primary Words; I-It dan I-Thou. Buber memberikan contoh dari pohon sebagai relasi dari I-It dan I-Thou. Menurut Buber, pohon merupakan bentuk yang cocok untuk dijadikan contoh karena Pohon mempunyai relasi hubungan timbal balik tidak secara langsung. Pohon disini dilambangkan sebagai it dan ImageThou.

Pada proses menjadi I-It adalah ketika kita mulai melihat apa yang terlihat pada pohon itu, kemudian melakukan pengamatan tentang pergerakan-pergerakan yang terjadi pada pohon tsb. Pohon melakukan kegiatan yang terus bekesinambungan, seperti yang bernapas dari daun, akar menghisap air, yang tak putus-putusnya kegiatan antara pohon dan bumi dan udara, dan pertumbuhan pohon. Setelah melakukan pengamatan kemudian kita melakukan pembelajaran terhadap pohon tsb. Proses-proses ini mengandung tiga unsur pada I-It yaitu experience, means-need relation, dan not whole being dimana pohon ini hanya menjadi pendukung untuk I.

Buber menggambarkan pohon tersebut dengan bagian-bagian serta lingkungan yang dapat mendukungnya menjadi Thou bagi I itu sendiri. Ketika pohon tersebut sudah menjadi Thou, maka sudah tidak ada penghalang lagi diantara relasi keduanya. Untuk bisa mencapai Thou, diperlukan openness (keterbukaan). Keterbukaan ini bukan seperti yang kita anggap sebagai curhat dengan lisan melainkan dengan kesadaran-kesadaran kita sebagai I-Thou. Relasi I-Thou bisa didapatkan dari spiritual being, seperti saling mempercayai satu sama lainnya. Perubahan dari I-It ke I-Thou bisa dilahat dari relasinya; untuk I-It orang akan melihat pohon itu sebagai benda yang biasa, tidak ada perasaan special yang menyentuh hati, sedangka untuk I-Thou telah membangun sebuah relasi dengan memandang pohon tsb sebagai benda yang memiliki nilai estetis dan berharga.

Pohon yang telah menjadi Thou akan menjadi bagian dari I itu sendiri. Semuanya seperti telah bersatu antara IThou. Apa yang menjadi kebahagian I akan juga menjadi kebahagian Thou, kesedihan I akan menjadi kesedihan Thou, dst. Relasi yang terjadi antara I-Thou terjadi pada saat ini juga, tidak di masa lalu atau di masa depan. I-Thou bisa kembali menjadi I-it apabila kita memikirkan kembali atribut yang berada pada Thou.

Refrensi:

-Fotokopi I and Thou Martin Buber

-Catatan Perkuliahan Eksistensialisme

-http://painsilencer.blogspot.com/2010/12/i-and-thou-martin-buber.html. Diunduh pada tanggal 26 Oktober 2011 pukul 23.00

Gabriel Marcel: Eksistensi Orang yang Sudah Meninggal

Siapa Gabriel Marcel? Gabriel Marcel adalah filsuf asal Prancis. Marcel dilahirkan di Paris pada tahun 1889. Ayahnya merupakan seorang Katolik dan ibunya seorang Yahudi. Marcel merupakan filsuf fenomenologi dan eksistensialisme terkenal di Paris. Bagi saya, Marcel merupakan filsuf paling romantis sepanjang saya mempelajari filsafat. Tidak ada filsuf lain yang bisa mengalahkan keromantisan Marcel. Hehehe 😀 Berikut ini ulasan singkat mengenai pemikiran Marcel tentang kematian. Ulasan ini merupakan tugas Eksistensialisme. Selamat menikmati.

Menurut Marcel, orang yang sudah meninggal tetap mempunyai eksistensi pada orang yang masih hidup. Hal ini bergantung pada bagaimana manusia tsb memandang orang yang sudah meninggal. Ada dua hal mendasar dan penting bagi Marcel, yaitu Having dan Being. Jika manusia tersebut hanya menerima orang yang sudah meninggal dinamakan Having. Having merupakan sekedar asimilasi dan sesuatu yang diobjektivikasikan terhadap yang kita punya. Kematian disisni, jika dipandang dari Having, manusia yang masih hidup menganggap kematian tersebut sudah melebur atau berasimilasi kepada orang yang mati itu. Karena hal itu, eksistensi orang yang mati tidak bisa hadir ditengah-tengah orang yang hidup.

Berbeda dengan Being. Jika orang yang masih hidup dan menganggap orang yang mati sebagai being, eksistensinya masih akan tetap hadir. Being adalah bagaimana kita memandang manusia secara keseluruhan dan eksistensinya selalu hadir (presence) dan utama (primary). Jadi, walaupun kematian sudah menjadi hal yang melekat pada orang yang telah mati, namun, Being orang tersebut selalu hadir dalam orang yang masih hidup.

Eksistensi orang yang sudah mati akan tetap hadir dalam orang yang masih hidup apabila ada sesuatu dari orang yang sudah mati menyatu (uniting) dengan orang yang masih hidup. Selain itu kematian tidak hanya diajadikan sebuah problem bagi orang yang masih hidup dengan mereduksi apa yang ada di dunia, melainkan dengan menjadikan kematian sebagai mystery. Jika sudah menjadi mystery, sesuatu dimana orang tersebut telah terlibat didalamnya dan tidak ada lagi perbedaan dimensi dunia antara orang yang masih hidup dan yang telah mati.

Mercel juga mengungkapkan bahwa eksistensi orang yang sudah mati bisa akan tetap hadir apabila ada sesuatu yang uniting dan dibarengi dengan adanya creative fidelity (kesetiaan). Kesetiaan disini adalah kesetian orang yang masih hidup dengan yang sudah mati walaupun banyak pertentangan yang hadir dari dunia eksternal. Kesetiaan yang menghadirkan Being dari orang yang sudah mati dan tidak serta merta menerima kematian sebagai mystery. Penjamin dari creative fidelity adalah hope. Harapan yang terus tumbuh dalam orang yang masih hidup untuk selalu setia kepada yang sudah mati .

Contoh cerita supaya lebih mudah memahami

  1. Srintil mempunyai kekasih yang bernama Rasus. Keduanya sudah berteman dari kecil. Rasus sudah berjanji kepada Srintil bahwa ia akan menikahi Srintil. Namun sebelum pernikahan itu terealisasikan, Rasus diangkat menjadi tentara dan ditugaskan di luar desa Dukuh Paruk. Tak lama kemudian, Rasus dikabarkan meninggal saat berperang. Srintil merasa sedih karena ditinggal sendiri, akan tetapi Srintil juga masih merasakan Rasus masih hadir disisinya. Hal ini bisa dikarenakan karena hubungan yang terjalin diantara Srintil dan Rasus cukup lama. Kehadiran Rasus pada disisi Srintil adalah Being dari Rasus. Srintil memaknai Rasus secarah keseluruhan dan telah bersatu (uniting) terhadap dirinya. Srintil juga tetap setia kepada Rasus (creative fidelity). Srintil menganggap kematian Rasus sebagai sebuah mystery, bukan problem.
  2. Bayu adalah seorang gitaris dan vocalis handal dan terkenal dari salah satu band music yang terkenal. Kecintaan Bayu pada musik yang menjadikannya seperti sekarang ini. Akan tetapi, nasib malang menyambangi Bayu. Bayu mengalami kecelakaan yang mengakibatkan dirinya tidak dapat bermain musik lagi. Bayu tidak begitu saja menyerah pada takdir, ia tetap mempunyai semangat dan harapan untuk terus berkarya dalam musik lagi. Harapan ini lah yang membuat bayu tetap setia pada kecintaannya pada musik dan terus bertahan untuk bisa sembuh dan kembali berkarya.
  3. Timnas Indonesia dalam sebuah pertandingan sepak bola mengalami kekalahan pada babak pertama dengan tim lawan 1-4. Selain itu pemain juga banyak yang cedera dan hal ini mengakibatkan mental turun. Tentu saja situasi seperti ini bisa mengakibatkan keputus asaan yang lebih cepat. Namun, pemain Timnas tidak begitu saja langsung berputus asa. Mereka mempunyai creative fidelity untuk terus berjuang dan mengharumkan nama bangsa. Selain itu, creative fidelity mereka didukung juga oleh harapan. Harapan ini lah yang akan terus mendukung Timnas untuk terus bertahan dan mengharumkan nama bangsa. Harapan ini muncul dalam diri mereka sendiri sebagai penjamin creative fidelity untuk mencapai kemenangan.