Bayang-bayang Senja

Senja datang menjemput matahari kembali ke peraduannya. Rona matahari merah terang menyiratkan kebahagiaan karena tugasnya telah berakhir, awan bergerumul menuju suatu tempat tanpa batas, burung-burung saling bersahutan.Begitupula dengan anak manusia yang merasa seketika bebas dari beban kerjanya. Senja yang syahdu, yang selalu ditunggu oleh kebanyakan orang, saat tepat untuk perenungan. Bagaimanapun, senja selalu membawa kesenangan bagi setiap orang yang mencintainya. Begitupula dengan aku, aku sangat mencintai Senja Tunggadewi, seorang perempuan berparas manis, berdarah campuran Kalimantan dan Jawa. Seperti namanya, Senja membuat kesyahduan dalam kehidupan ku dengan sifat manjanya, ketulusannya, kasih sayangnya, dan bibirnya yang seperti bulan sabit. Kau tahu kan bulan sabit? Ya, bulan yang hanya setengah lingkaran, begitulah bibir Senja, senyuman selalu menghiasi bibir mungilnya. Aaaahhh, rasanya aku tak bisa mendeskripsikan Senja dengan jelas karena Senja terlalu indah.

Senja adalah perempuan yang saat ini aku mengahbiskan waktu dengannya, namun sayangnya waktu tak pernah habis. Senja, sebuah nama yang tak pernah aku bosan untuk menyebutnya. Sudah tiga tahun ini aku mencoba menghabiskan waktu ku bersama Senja. Senang rasanya aku berada disisinya. Perkenalan ku dengan Senja berawal ketika aku memasuki sebuah universitas negeri kenamaan di Malang.  Kami satu jurusan, yaitu Ilmu Kedokteran. Dari sini lah, Senja mulai mengukir sebuah cerita di hatiku.

“Hai. Lo anak kedokteran juga kan?” tiba-tiba saja Senja menghampiri ku dengan wajah riangnya dan senyum manisnya. Ya Tuhan, bidadari dari surga mana yang kau jatuhkan dihadapapanku ini? Tubuh semampai, kaki bagaikan belalang, irisan matanya bagai pelangi, dan ya Tuhan, nyaris sempurna makhluk ciptaan mu satu ini. “Eh kok lo diem aja sih! Ditanya juga!” tiba-tiba saja bentakan Senja membangunkan aku dari khayalanku.

“Eh iya. Maaf-maaf. Iya, gue anak kedokteran. Kenapa?”

“Ohh. Iya kenalin, nama gue Senja, anak kedokteran juga. Nama lo siapa?” kata senja sambil menjulurkan tangan kanannya untuk bersalaman.

“Gue Fajar”, jawabku singkat sambil meraih tangan kanannya.

Perkenalan singkat ini terus berlanjut. Kemudian kami berada dalam satu kelompok untuk sebuah tugas Ospek fakultas. Ini lah yang kemudian mendekatkan kami dikemudian hari. Hari terus bergulir. Pagi berganti malam. Fajar berganti Senja. Siklus bulan juga berubah-ubah mengikuti periodenya. Senja tumbuh menjadi mahasiswi berparas cantik, supel, pandai, dan tentunya rajin menabung. Jangan dianggap sepele kerajinan Senja untuk menabungkan uangnya. Disuatu senja, ketika kami sedang duduk-duduk di pinggir danau Selorejo, Senja bercerita tentang keinginannya membangun sebuah Rumah Sehat untuk menampung manula dan anak-anak terlantar. Kecintaannya pada bidang sosial membuat dia begitu peka terhadap lingkungan disekitarnya. Ketika gadis lain seusianya sibuk untuk mempercantik diri dan menghiasi tubuh mereka dengan pakaian bermerek atau pakaian yang sedang hits saat itu, Senja lebih senang mempercantik hatinya dengan mengikuti bakti sosial atau sekedar datang kesebuah panti jompo atau panti asuhan dan menghabiskan waktu berhari-hari disana. Aku senang mendampingi Senja, karena seringkali Senja memberikan nilai kehidupan yang belum pernah aku temui.

Benih-benih cinta mulai tumbuh dihatiku. Tumbuh semakin subur disirami oleh senyum dan keikhlasan Senja. Diam-diam aku mencintai Senja. Merayapi bayangan Senja dengan cintaku. Mimpi ku selama berhari-hari ketika aku kenal Senja adalah aku ingin merayapi Senja dengan cinta dan kasih ini. Meninggalkan cinta dan kasih dalam diri Senja. Hanya itu. Kemudian setelah aku berpikir sampai tidak bisa berpikir lagi, aku memutuskan untuk menyatakan cinta kepada Senja. Aku sudah tak karuan jika memandang Senja dari balik kacamata ini. Siang-malam aku selalu dibayangi oleh Senja. Aku putuskan untuk menyatakan cinta ke Senja pada hari dimana ia berulang tahun, tanggal 22 Desember 2010.

Aku undang Senja ketempat dimana kita sering menghabiskan waktu bersama, dipinggir danau Selorejo, tepat dibawah Pohon Mahoni ini. Aku menyiapkan sedikit kejutan untuknya; sebuah kue tart kecil dengan lilin berangka 18, balon-balon berbentuk hati, dan sebuah hadiah boneka Teddy Bear untuknya. Senja yang baru tiba dan melihat ini tiba-tiba berteriak, loncat-loncat, dan hap! dia memelukku. Senja sempat menitikan air mata harunya untuk kejutan kecil ini yang dia bilang “yaaampuuuun Fajar. Ini so cute. Thanks so much!”. Setelah meniup lilin, aku langsung mengutarakan perasaanku. Dan ini sungguh tidak romantis. Sungguh.

“Senja, lo kan belom punya pacarkan ya?”

“Belom lah! Gimana gue bisa punya pacar, kalo lo ada terus disamping gue, yang ada tuh cowo-cowo pada takut deketin gue karena ngeliat muka lu! Makanya doain dong biar dapet pacar”, pinta Senja dengan wajah merengek

“Mau gak lo jadi pacar gue. Ya ya ya ya? Mau gak?”, kataku tanpa basa-basi dan tanpa kata-kata romantis seperti di film-film drama romantis.

Senja langsung bungkam. Air mukanya langsung berubah menjadi canggung. Salah tingkah. “Ya ampun Senja, kamu kalo lagi gini lucu banget! “, batinku. Tapi, sejujurnya aku takut jika pernyataan cinta ini akan merusak hubungan persahabatan kami atau menimbulkan rasa canggung diantara kami nantinya. Senja membalikkan badannya dari hadapanku, menatap lepas ke tepian danau dan angsa-angsa yang berenang menyusuri pinggir danau. Mencoba mencari jawaban hingga ke dasar danau.

“Lo kenapa kaya gini sih Jar? Kenapa lo juga ngerasain hal sama kaya gue?”, Senja membalikan badannya kehadapanku lagi.

“Hah? Apa Sen? Gak salah denger nih?”, kataku dengan mengguncang-guncangkan badan Senja.

“Iya, Fajar!”, dengan senyum manisnya, ia menerima cinta ku.

Wuhuuuu! Betapa senangnya ketika cinta ini bersambut dengan rasa yang sama. Kebahagiaan begitu menjadi sederhana untuk diterjemahkan. Hati ini bagaikan bom yang akan meledak, karena begitu banyak buncahan kesenangan yang meletup-leptup dalam hatiku.

Sore ini kami habiskan dengan menikmati senja di danau Selorejo dibawah pohon Mahoni, kemudian Senja memberi nama pohon Manoni ini dengan nama Fajar. Menurutnya, dari pohon ini cinta kami bersemi dan berkembang. Begitupula dengan fajar dimana matahari terbit membawa sejuta harapan baru bagi makhluk di dunia ini. Senja di danau Selorejo begitu mempesona, disaksikan oleh Gunung Anjasmoro, Gunung Kelud, dan Gunung Kawi, kami bertukar cerita, tawa, dan harapan. Senja mulai bergulir digantikan malam yang sunyi, menghabiskan sisa malam dengan kesunyian malam hingga pagi menjemput. Menghayalkan sampai kapan janji cinta kita bisa bertahan.

“….Malam jadi saksinya kita berdua diantara kata yang tak terucap dan berharap waktu yang membawa keberanian untuk yang tak tahu membawa jawaban cinta kita, ada kesempatan ucapkan janji tak akan pergi selamanya…” [i]

Disuatu siang aku menemani kegiatan rutin Senja mengunjungi panti asuhan anak-anak berkebutuhan khusus. Mendampingi Senja melakukan kegiatan seperti ini sungguh menyenangkan. Kadang aku merasa beruntung ketika melihat banyak laki-laki yang menemani kekasihnya pergi ke mall untuk belanja, sedangkan aku disini bersenang-senang bersama dan mendapatkan satu nilai kehidupan baru. Sore harinya kami pergi ke danau Selorejo dan duduk dibawah pohon Fajar. Tak jauh dari kami, pengamen pria remaja membawakan lagu It Will Rain dari Bruno Mars. Iringan gitarnya membuat sore ini menjadi begitu romantis. Senja menyandarkan kepalanya dipangkuanku, menceritakan segala hal yang menjadi keluh kesalnya, leluconnya, atau impian-impiannya.

Kemudian, hujan deras kemudian turun. Kami berlalri mencari saung-saung yang bisa menjadi tempat berteduh. Kamu tahu apa yang Senja lakukan ketika hujan ini? Dia menarik tanganku untuk keluar dari saung tempat kami berteduh dan mengajakku bermain dengan hujan bersama beberapa anak bocah laki-laki lainnya. Betapa senangnya aku ketika berada dibawah naungan hujan. Kuingat, terakhir aku bermain dibawah guyuran hujan adalah ketika aku kelas 6 SD dan sekarang aku mahasiswa tingkat dua ilmu kedokteran! Di derasnya hujan, aku tarik tubuh Senja kedalam pelukan ku, tiba-tiba saja aku ingin memeluk Senja. Kubenamkan Senja dalam pelukan eratku, kemudian ku kecup bibir mungil Senja. Senja hanya menatapku kebingungan. Selama kami berpacaran, baru kali ini aku mencium bibir seorang perempuan. Rasanya hangat. Saat ku kecup bibir Senja, ku kirim nafas ku kedalam tubuhnya, biar aku bisa terus bersemayam dalam dirinya sampai Senja menghembuskan nafas terakhir.

“I try but I can’t seem to get myself to think of  anything but you.. Your breath on my face your warm gentle kiss I taste.. The truth, I taste the truth..We know what I came here for…. So I won’t ask for more…”[ii]

Setelah hujan reda, kami pulang dengan mengendarai motor Honda CS-1 ku. Senja yang aku bonceng, merapatkan tubuhnya kepunggungku dan melilitkan tangannya ke pinggangku. Begitu hangatnya diriku dalam kedinginan ini. Setibanya aku di kosan Senja, aku jatuh pingsan dengan berlumuran darah yang keluar dari hidung dan telinga ku. Aku merasa bersalah ketika aku harus jatuh pingsan di tangannya dan melumuri baju putih Senja dengan darahku ini. Sekitar dua minggu terakhir aku merasakan sakit yang luar biasa di kepala ku. Kemudian aku jatuh koma. Sudah hampir 5 bulan ini aku tiertidur dalam koma, kanker yang aku derita sejak 8 tahun lalu kini mencapai puncaknya. Dokter memvonisku menderita kanker otak. Kanker otak yang aku derita akibat faktor genetis dan gaya hidupku dulu. Ayahku meninggal 10 tahun yang lalu akibat kanker otak, semenjak ayah meninggal, aku terperosok pada kesedihan yang amat mendalam. Aku kemudian banyak menghabiskan waktu dengan puluhan batang rokok dan belasan botol alcohol.  Beberapa terapi sudah aku lakukan, termasuk terapi obat dengan Avastin, kemoterapi, dan pengobatan tradisional lainnya.

Ya, sebelumnya aku memang tidak pernah menceritakan penyakit ini ke Senja, karena aku takut aku hanya akan menjadi beban dia dan mungkin Senja akan meninggalkanku. Bagiku, cukup melihat Senja bahagia, tertawa, atau ketika dia mengedipkan mata kebahagiaannya saja sudah menjadi obat yang ampuh bagi penyakitku ini. Sejak bertemu Senja, aku memutuskan untuk memberhentikan terapi-terapi yang aku lakukan. Jika aku terus melakukan terapi itu walaupun dengan sembunyi-bunyi, Senja akan tahu dari perubahan kulit aku akibat kemoterapi.

Dalam koma ku ini, aku menceritakan cerita ini, tentang Senja. Bagaimana bisa aku menceritakan Senja jika aku saja koma? Aku menitipkan cerita ini melalui mimpi ku, ketika aku bermimpi dalam koma ku. Aku rindu untuk bangun dari koma ku. Aku rindu untuk menggenggam tangan Senja, rindu menemaninya ke panti-panti, rindu duduk bareng dibawah pohon, rindu mendengar ceritanya. Ya RINDU!! Rindu sejak Senja tak pernah menghampiri aku lagi selama sebulan ini, bahkan senja juga enggan mengintip aku dari tirai-tirai jendela kamar ini. Aku tak tahu kapan Tuhan akan membangunkan aku dari koma ku ini, ya aku tak tahu. Yang ku tahu, ketika aku terbangun, aku ingin menemui Senja. Titik. Tidak, tidak jadi titik, atau cerita tentang Senja ini hanyalah mimpi panjangku dalam koma ku yang belum berujung? Mungkin. Realitas dan mimpi sulit untuk dibedakan ketika Jiwa melayang mencari tubuh yang baru untuk bernaung. Mungkin.


[i] Lirik dalam lagu Berdua Saja, Payung Teduh

[ii] Lirik dalam lagu I wanna be With You, dipopulerkan oleh Mandy Moore

Bogor, 13 Juni 2012

***Berlanjut dalam  cerita Sinar Fajar dan Mentari***

Face and The other Emmanuel Levinas

Image            Emmanuel Levinas lahir pada tahun 1906 di Kaunas Lithuania, dalam keluarga keturunan Yahudi. Lithuania pada waktu itu termasuk Rusia di bawah pemerintahan Tsar dan merupakan daerah di mana agama Yahudi dan studi Talmud berakar kuat. Bahasa Rusia adalah bahasa ibu bagi Levinas. Levinas dibesarkan dalam tuntunan Alkitab Ibrani dan pengarang-pengarang klasik Rusia, Tolstoi dan Puschkin. Beberapa tahun lamanya ia disekolahkan di daerah Ukraina di mana ia menyaksikan peristiwa-peristiwa sekitar revolusi Rusia (1917), dan ia menyelesaikan sekolah menengah di tempat asalnya, Kaunas.

            Pada Tahun 1923, ia berangkat ke Prancis untuk studi filsafat yang kemudian ia mendapatkan kewarganegaraan Prancis. Pemikiran Levinas dipengaruhi oleh Husserl, Heidegger, dan juga Dostoyevsky. Pemikiran Levinas berorientasi pada etika. Ia kemudian meninggal pada tanggal 25 Desember 1995.

            Pikiran-pikiran pokok Levinas tergambar melalui beberapa term seperti wajah, the other, infinity, dan totality. Pemikiran Levinas berpusat pada etika. Dalam pemikiran Levinas berbeda dengan para filosof sebelumnya yang berorientasi pada Aku atau biasa disebut sebagai egologia dimana ego merupakan pusat pembahasan para filsof waktu itu. Ia juga berpendapat bahwa filsafat pada awalnya bukanlah metafisika, melainkan etika. Akan tetapi, dalam etika Levinas kita menemukan hal yang berbeda, yaitu pembahasan Levinas bukan mengenai yang baik atau buruk, melainkan relasi yang terjadi pada manusia.

            Pikiran pokok pertama Levinas yaitu mengenai infinity dan the other. Hubungan antarpersonal manusia didasari oleh hubungan Aku-“Yang Lain” (L’un pour l’autre). Dalam egologia, meruduksi semua hal pada totalitas dan mengesampingkan perbedaan. Totalitas ditempatkan sebagai puncak dari egologia yang sering mengorbankan “yang tunggal” pada sistem. Akan tetapi menurut Levinas, totalitas ini bisa dihancurkan oleh yang tak terhingga. Yang tak terhingga adalah the other, yang berbeda dengan saya, berada diluar diri saya yang berakibat runtuhnya totalitas saya ketika berjumpa dengan orang lain. Yang tak terhingga merupakan sesamam manusia yang mengajak diri kita untuk keluar dan melihat realitas yang ada. Untuk merumuskan kejadian ini, Levinas menggunakan istilah wajah (face).

            Menurut Levinas, the other mengungkapkan diri dan memanifestasikan diri. Kehadirannya tidak berbeda dengan benda-benda objektif lainnya. Disini wajah merupakan kehadiran langsung dari the other yang menandakan bawa ada orang lain yang berbeda dari kita. Ketika kita berjumpa dengan wajah, maka kita akan menerima wajah sebagaimana mestinya ketika ia hadir dihadapan kita. Dengan demikian, perjumpaan kita dengan wajah akan mengundang kita untuk menyapa the other dan kita tidak bisa menguasainya. Tentunya wajah yang lain mempunyai karakteristik yang berbeda dengan kita. Wajah yang hadir dihadapan kita merupakan wajah yang “telanjang” dan “luhur”. Telanjang karena ia adalah ia yang lain dari saya tanpa sesuatu apapun yang jadi pengantara. Luhhur karena ia tidak bisa didiamkan saja atau dikesampingkan. Karena hal ini, kita dituntut untu berlaku etis. Wajah-wajah yang hadir dihadapan kita membuat kita tidak berdaya. Wajah-wajah tsb juga ingin diperlakukan sama dengan yang lainnya dengan rasa memelas dan keadilan. Dengan adanya “ketelanjangan wajah” adalah juga kehadiran yang “membutuhkan” di dunia ini: semua orang. Hal-hal tersebut diilhami Levinas sebagai usaha untuk memahami dan mengeksplitasi keunikan yang dimiliki manusia dan merupakan eksploitasi terhadap keunikan yang dimiliki manusia.

 

Mahasiswa Berprestasi a la Gue

Hai semuanya! Akhirnya gue kembali lagi ke dunia per-BLOG-an ini setelah beberapa minggu ini sibuk ngurusin terpaan badai tugas presentasi, paper, dan UAS. Uhh yeeeaaaaahhhh!! *peluk leptop* Anyway, gimana nih semester ini? Yakin dapet nilai memuaskan gak? Atau malah jeblok? Hahaha

Suatu ketika Ibu gue nanya “Ca, kamu gak ikutan Mapres?” dan gue jawab “buat apaan ikutan Mapres? Wong Ica aja udah jadi Mapres” eeehhh bener aja, Ibu gue langsung percaya. Dengan muka semangat dia bilang, “waaah iya? Kapan? Kok gak dikasih tau?” dan gue jawab “Ya ini yang sehari-hari; ngerjain tugas mepet waktunya, datang telat, ketawa-ketawa kalo dikelas.” Langsunglah gue dijitak sama Ibu gue.

Cerita diatas sebagai cerita pembuka. Tapi sebenernya kalian tau gak sih Mapres itu apa? Mahasiswa yang punya banyak prestasi? IPK nyaris 4? Atau terancam lulus 3,5tahun? Pertama kita tilik terlebih dahulu arti kata berprestasi. Berprestasi menurut KBBI adalah mempunyai prestasi dl suatu hal (dr yg telah dilakukan, dikerjakan, dsb). Jadi Mapres adalah mahasiswa yang mempunyai prestasi.  Hampir semua dari lo pada tau kan mahasiswa berprestasi? Bahkan kalo lo mau jadi Mapres di kampus lo, lo harus ikutan dulu tuh seleksi yang panjang nan ribet. Syaratnya banyak.

Menyandang gelar Mapres emang bikin bangga gitu ya, dikenal orang-orang, dianggep “wah”, oke banget, seolah-olah rajin belajar (kutu buku), dapet beasiswa, terus orang tua biasanya ntar certain ke orang-orang, dsb. Mungkin itu pandangan yang gue tangkep dari kontes Mapres di kampus gue.

Nah, Mapres versi gue beda banget dengan yang ada dibayangan orang-orang pada umumnya. Menurut gue, untuk menjadi Mapres, gak perlu pake audisi atau syarat yang belibet, cukup dengan kemampuan diri lo yang lo punya dan bisa lo kembangkan yang orang lain gak bisa, lo udah jadi Mapres.

Berprestasi bagi gue adalah ketika gue bisa menyelesaikan tuntutan, tugas, atau hal-hal lain dengan rasa kepuasan diakhir.

Contohnya Mapres apa? Contohnya gue ambil dari kegiatan-kegiatan perkuliahan gue selama semester 4 ini. Apa aja contoh Mapres versi gue? Ini lah Mapres a la Icasaurus:

  1. Hobi dari kelas gue adalah datang telat alias ngaret sampe 20-30 menit, yang mana udah ada dosen duduk manis memandang kelas yang sepi.  Mahasiswa mana yang berani datang ngaret segitu lamanya dan itu rombongan. Ada?
  2. Masuk kelas jam 9.00 pagi, tapi gue jam 8.45 masih di Stasiun Tebet nunggu kereta dan masuk kelas jam 9.30 tanpa ada perasaan bersalah
  3. Ngerjain tugas paper 4-6 halaman di hari H pas mau dikumpulin. Kalo masalah ini, temen gue Marlina dan Pretty paling jago banget nih kalo hal ini! Mereka memang Mapres sejati deh!
  4. Bikin presentasi 1 jam sebelum presentasi, tanpa paper. Kemudian kena semprot dosen
  5. Bikin dosen marah dan sensi seterusnya akibat dari satu kelas hobi datang telat ke kelas setiap ada kelas dosen tsb. Sebut saja dosen itu bernama Bunga
  6. Ngerjain UAS open book nunggu jawaban dari satu-dua orang dulu
  7. Ngecengin dan ngetawain dosen secara bersama-sama, beneran Laugh of Loud looohh
  8. Dll

Jadi, cukup berbedakan Mapres versi gue dengan kebanyakan orang? Bagi gue, gelar Mapres bisa disandang sama siapapun. Lo semua punya kemampuan yang sama kok buat dapet gelar Mapres versi gue.

Lo bisa dengan bebas mendefinisikan kata Berprestasi menurut lo.

Kata diciptakan untuk dimaknai, baik secara general atau personal. So, jangan pernah minder kalo lo gak dapet gelar Mapres. Berilah gelar kepada diri lo sendiri, konon itu lebih berkesan. Hahaha. Oya, ingat, IPK bukanlah satu-satunya hal terpenting dalam dunia perkuliahan, yang penting adalah kehidupan lo selama kuliah! Jangan lupa makan tahu-tempe biar gelar Mapres nya makin cool!! Be Your Self and Stay Cool!!

Ps: Untuk menjadi Mapres, perlu keahlian khusus dan dilakukan oleh orang yang professional. Don’t try this at Campus! Hahahaha 😀