Face and The other Emmanuel Levinas

Image            Emmanuel Levinas lahir pada tahun 1906 di Kaunas Lithuania, dalam keluarga keturunan Yahudi. Lithuania pada waktu itu termasuk Rusia di bawah pemerintahan Tsar dan merupakan daerah di mana agama Yahudi dan studi Talmud berakar kuat. Bahasa Rusia adalah bahasa ibu bagi Levinas. Levinas dibesarkan dalam tuntunan Alkitab Ibrani dan pengarang-pengarang klasik Rusia, Tolstoi dan Puschkin. Beberapa tahun lamanya ia disekolahkan di daerah Ukraina di mana ia menyaksikan peristiwa-peristiwa sekitar revolusi Rusia (1917), dan ia menyelesaikan sekolah menengah di tempat asalnya, Kaunas.

            Pada Tahun 1923, ia berangkat ke Prancis untuk studi filsafat yang kemudian ia mendapatkan kewarganegaraan Prancis. Pemikiran Levinas dipengaruhi oleh Husserl, Heidegger, dan juga Dostoyevsky. Pemikiran Levinas berorientasi pada etika. Ia kemudian meninggal pada tanggal 25 Desember 1995.

            Pikiran-pikiran pokok Levinas tergambar melalui beberapa term seperti wajah, the other, infinity, dan totality. Pemikiran Levinas berpusat pada etika. Dalam pemikiran Levinas berbeda dengan para filosof sebelumnya yang berorientasi pada Aku atau biasa disebut sebagai egologia dimana ego merupakan pusat pembahasan para filsof waktu itu. Ia juga berpendapat bahwa filsafat pada awalnya bukanlah metafisika, melainkan etika. Akan tetapi, dalam etika Levinas kita menemukan hal yang berbeda, yaitu pembahasan Levinas bukan mengenai yang baik atau buruk, melainkan relasi yang terjadi pada manusia.

            Pikiran pokok pertama Levinas yaitu mengenai infinity dan the other. Hubungan antarpersonal manusia didasari oleh hubungan Aku-“Yang Lain” (L’un pour l’autre). Dalam egologia, meruduksi semua hal pada totalitas dan mengesampingkan perbedaan. Totalitas ditempatkan sebagai puncak dari egologia yang sering mengorbankan “yang tunggal” pada sistem. Akan tetapi menurut Levinas, totalitas ini bisa dihancurkan oleh yang tak terhingga. Yang tak terhingga adalah the other, yang berbeda dengan saya, berada diluar diri saya yang berakibat runtuhnya totalitas saya ketika berjumpa dengan orang lain. Yang tak terhingga merupakan sesamam manusia yang mengajak diri kita untuk keluar dan melihat realitas yang ada. Untuk merumuskan kejadian ini, Levinas menggunakan istilah wajah (face).

            Menurut Levinas, the other mengungkapkan diri dan memanifestasikan diri. Kehadirannya tidak berbeda dengan benda-benda objektif lainnya. Disini wajah merupakan kehadiran langsung dari the other yang menandakan bawa ada orang lain yang berbeda dari kita. Ketika kita berjumpa dengan wajah, maka kita akan menerima wajah sebagaimana mestinya ketika ia hadir dihadapan kita. Dengan demikian, perjumpaan kita dengan wajah akan mengundang kita untuk menyapa the other dan kita tidak bisa menguasainya. Tentunya wajah yang lain mempunyai karakteristik yang berbeda dengan kita. Wajah yang hadir dihadapan kita merupakan wajah yang “telanjang” dan “luhur”. Telanjang karena ia adalah ia yang lain dari saya tanpa sesuatu apapun yang jadi pengantara. Luhhur karena ia tidak bisa didiamkan saja atau dikesampingkan. Karena hal ini, kita dituntut untu berlaku etis. Wajah-wajah yang hadir dihadapan kita membuat kita tidak berdaya. Wajah-wajah tsb juga ingin diperlakukan sama dengan yang lainnya dengan rasa memelas dan keadilan. Dengan adanya “ketelanjangan wajah” adalah juga kehadiran yang “membutuhkan” di dunia ini: semua orang. Hal-hal tersebut diilhami Levinas sebagai usaha untuk memahami dan mengeksplitasi keunikan yang dimiliki manusia dan merupakan eksploitasi terhadap keunikan yang dimiliki manusia.

 

Mahasiswa Berprestasi a la Gue

Hai semuanya! Akhirnya gue kembali lagi ke dunia per-BLOG-an ini setelah beberapa minggu ini sibuk ngurusin terpaan badai tugas presentasi, paper, dan UAS. Uhh yeeeaaaaahhhh!! *peluk leptop* Anyway, gimana nih semester ini? Yakin dapet nilai memuaskan gak? Atau malah jeblok? Hahaha

Suatu ketika Ibu gue nanya “Ca, kamu gak ikutan Mapres?” dan gue jawab “buat apaan ikutan Mapres? Wong Ica aja udah jadi Mapres” eeehhh bener aja, Ibu gue langsung percaya. Dengan muka semangat dia bilang, “waaah iya? Kapan? Kok gak dikasih tau?” dan gue jawab “Ya ini yang sehari-hari; ngerjain tugas mepet waktunya, datang telat, ketawa-ketawa kalo dikelas.” Langsunglah gue dijitak sama Ibu gue.

Cerita diatas sebagai cerita pembuka. Tapi sebenernya kalian tau gak sih Mapres itu apa? Mahasiswa yang punya banyak prestasi? IPK nyaris 4? Atau terancam lulus 3,5tahun? Pertama kita tilik terlebih dahulu arti kata berprestasi. Berprestasi menurut KBBI adalah mempunyai prestasi dl suatu hal (dr yg telah dilakukan, dikerjakan, dsb). Jadi Mapres adalah mahasiswa yang mempunyai prestasi.  Hampir semua dari lo pada tau kan mahasiswa berprestasi? Bahkan kalo lo mau jadi Mapres di kampus lo, lo harus ikutan dulu tuh seleksi yang panjang nan ribet. Syaratnya banyak.

Menyandang gelar Mapres emang bikin bangga gitu ya, dikenal orang-orang, dianggep “wah”, oke banget, seolah-olah rajin belajar (kutu buku), dapet beasiswa, terus orang tua biasanya ntar certain ke orang-orang, dsb. Mungkin itu pandangan yang gue tangkep dari kontes Mapres di kampus gue.

Nah, Mapres versi gue beda banget dengan yang ada dibayangan orang-orang pada umumnya. Menurut gue, untuk menjadi Mapres, gak perlu pake audisi atau syarat yang belibet, cukup dengan kemampuan diri lo yang lo punya dan bisa lo kembangkan yang orang lain gak bisa, lo udah jadi Mapres.

Berprestasi bagi gue adalah ketika gue bisa menyelesaikan tuntutan, tugas, atau hal-hal lain dengan rasa kepuasan diakhir.

Contohnya Mapres apa? Contohnya gue ambil dari kegiatan-kegiatan perkuliahan gue selama semester 4 ini. Apa aja contoh Mapres versi gue? Ini lah Mapres a la Icasaurus:

  1. Hobi dari kelas gue adalah datang telat alias ngaret sampe 20-30 menit, yang mana udah ada dosen duduk manis memandang kelas yang sepi.  Mahasiswa mana yang berani datang ngaret segitu lamanya dan itu rombongan. Ada?
  2. Masuk kelas jam 9.00 pagi, tapi gue jam 8.45 masih di Stasiun Tebet nunggu kereta dan masuk kelas jam 9.30 tanpa ada perasaan bersalah
  3. Ngerjain tugas paper 4-6 halaman di hari H pas mau dikumpulin. Kalo masalah ini, temen gue Marlina dan Pretty paling jago banget nih kalo hal ini! Mereka memang Mapres sejati deh!
  4. Bikin presentasi 1 jam sebelum presentasi, tanpa paper. Kemudian kena semprot dosen
  5. Bikin dosen marah dan sensi seterusnya akibat dari satu kelas hobi datang telat ke kelas setiap ada kelas dosen tsb. Sebut saja dosen itu bernama Bunga
  6. Ngerjain UAS open book nunggu jawaban dari satu-dua orang dulu
  7. Ngecengin dan ngetawain dosen secara bersama-sama, beneran Laugh of Loud looohh
  8. Dll

Jadi, cukup berbedakan Mapres versi gue dengan kebanyakan orang? Bagi gue, gelar Mapres bisa disandang sama siapapun. Lo semua punya kemampuan yang sama kok buat dapet gelar Mapres versi gue.

Lo bisa dengan bebas mendefinisikan kata Berprestasi menurut lo.

Kata diciptakan untuk dimaknai, baik secara general atau personal. So, jangan pernah minder kalo lo gak dapet gelar Mapres. Berilah gelar kepada diri lo sendiri, konon itu lebih berkesan. Hahaha. Oya, ingat, IPK bukanlah satu-satunya hal terpenting dalam dunia perkuliahan, yang penting adalah kehidupan lo selama kuliah! Jangan lupa makan tahu-tempe biar gelar Mapres nya makin cool!! Be Your Self and Stay Cool!!

Ps: Untuk menjadi Mapres, perlu keahlian khusus dan dilakukan oleh orang yang professional. Don’t try this at Campus! Hahahaha 😀