Kemarin siang aku dan sepupuku yang berusia tujuh tahun bermain-main di dalam kamarku. Ia mengacak-acak kamarku, mulai dari peralatan make-up ku sampai kasur pun tak luput dari tangan mungilnya. Kebetulan aku sudah lama gak bertemu dengan dia, maklum dia tinggal di Cilacap jadi kami hanya sesekali bersua. Sepupu ku ini bernama Kayla. Kayla bertubuh mungil dengan rambut lurus dan gigi regesnya, tak luput dengan aksen jawanya yang medok serta cerewet.
Kayla memainkan jam waker Doraemon ku yang terletak di mejaku. Ia memutar-mutar jarum jam sesuka hatinya. Kemudian ia bertanya,
“Teteh, sekarang ini jam berapa?”, katanya sambil menunjukan jam weker kearah ku.
“Jam sepuluh lewat lima”, jawabku singkat.
Kayla terus melanjutkan memutar-mutar jarum jam weker. Dia beberapa menanyakan jam berapa ini sambil terus memutar-mutar jarum jam. Saking asiknya dia bermain dengan jam weker, dia sempat terkaget karena tiba-tiba saja jam weker ku berbunyi karena bertepatan dengan alarm yang biasa aku pasang. Seterlah terkaget dia langsung ketawa karena senang mendengar bunyi alarm. Tak lama ia berhenti memutar-mutar jarum jam. Ia menanyakan pada ku apa guna nya jam? Aku bilang kalau jam itu berguna sebagai penunjuk waktu. Belum selesai aku menjawab, Kayla langsung menyanyakan hal lain,
“Teteh, waktu itu apa ya?”, tanyanya polos
Hemmm, saat itu aku kebingungan mau menjawab apa. Karena sejujurnya aku sendiri masih bingung apa yang dimaksudkan dengan waktu. Namun aku berusaha untuk menjawab dengan sesuatu yang mudah untuk dia pahami.
“Kayla mau tau banget emang? Hehehe. Waktu itu kaya sekarang Kayl, kaya kamu lagi mainan boneka itu juga waktu, atau kalo kamu lagi nangis itu juga waktu. Atau misalnya kalau Kakak Alghi berangkat sekolah jam tujuh, itu juga waktu keyl,” semoga saja Kayla bisa menalar atau setidaknya mengerti.
Kayla hanya menganggukan kepalanya dan tak lama sejurus pertanyaan meluncur lagi dari bibir mungilnya,
“Teh, kan jarum jam bisa berhenti, nah kalau waktu bisa berhenti gak?”
Aduh! Batinku. Pertanyaan macam apa pula ini. Anak berumur tujuh tahun bisa bertanya seperti ini. Aku menarik napas dalam-dalam dan mulai berpikir jawaban apa yang akan kuberikan.
“Waktu gak bisa berhenti Kayl walau jarum jam berhenti. Kan jarum jam hanya sebagai alat penunjuk aja. Coba liat ke jam dinding rumah, emangnya kalo jamnya berhenti kamu ikutan berhenti juga? Engga kan?”
Setelah jawabanku ini Kayla mulai bosen dan melanjutkan dengan menghiasi kutex pada kuku nya. Selama Kayla bermain-main dengan kutex, aku masih saja merenungkan tentang waktu yang baru saja ia tanyakan pada ku.
Waktu. Apa sih waktu? Aku sendiri masih belum bisa mendefinisikan apa itu waktu. Menurut KBBI waktu adalah seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan atau keadaan berada atau berlangsung. Dalam hal ini, skala waktu merupakan interval antara dua buah keadaan/kejadian, atau bisa merupakan lama berlangsungnya suatu kejadian. Pertanyaan tentang waktu sebenarnya sudah lama muncul dalam pikiran ku ketika aku mempelajari Filsafat Ilmu beberapa waktu lalu mengenai waktu.
Kapan waktu tercipta? Kapan waktu habis? Atau tak bisa habis? Apakah Tuhan menciptakan waktu seiring dengan Ia menciptakan dunia dan semesta raya ini? Atau kita kah, manusia, yang menciptakan waktu? Entahlah aku juga tak mengerti kapan waktu tercipta dan siapa yang mencipta. Setahu aku, manusia menyepakati hari, tanggal, dan jam secara bersama-sama. Lalu bisakah aku mengatakan bahwa waktu merupakan kesepakatan bersama? Kalau begitu aku berhak dong untuk membuat waktu atau jam versi aku sendiri?
Kemudian, waktu itu bersifat linier atau sebuah siklus? Mungkin kah waktu sebenarnya hanya sebuah siklus dari sebuah kehidupan yang berputar, kembali ke awal ketika sudah mencapai akhir dan tanpa akhiran pasti? Atau apakah waktu bersifat linier yang terus maju kedepan tanpa pernah mundur lagi kebelakang, seperti garis lurus dengan ujung?
Yang pasti aku ketahui adalah waktu merupakan sebuah proses kehidupan. Tentang runtutan kejadian dalam kehidupan. Apakah waktu linier atau siklus aku belum tahu dan belum bisa menjawabnya karena aku belum tiba pada pengakhiran waktu dalam hidupku. Kapan dan siapa pencipta waktu aku pun belum bisa menjawabnya. Tapi, tenang saja, aku akan menjawabnya kelak ketika aku sudah mencapai akhir dari semuanya. Aku akan menjawab melalui hembusan angin yang akan membawa pesannya. Selamat mewaktu dalam kehidupan! 🙂