Malam ini di langit tumpah ruah banyak bintang

Malam ini juga aku menyaksikan bulan terbit

Tapi sayang semua yang aku lihat malam ini tidak bersama kamu

Aku membayangkan betapa asyiknya jika aku dan kamu duduk diatas genting rumah ku sambil menikmati kue rangi, secangkir kopi, dan tanpa smart phone menatap ratusan bintang yang tumpah ruah di langit dan bulan terbit, membicarakan tentang saat ini. Berandai-andai jika bulan jatuh dipangkuan kita. Sesuatu yang terdengar mustahil.

 

 

Sama ketika aku menuliskan angan pada cerita ini,

mustahil terjadi.

18 Februari 2013

Sore ini semuanya terasa begitu kalut. Semua hal yang ada dalam pikiran saya meracau entah kemana. Mengalir disetiap jalan yang saya lalui. Saya butuh ketenangan. Saya butuh sebuah pelukan yang menghangatkan dan bahu yang siap menopang wajah dan air mata saya. Saya rasa, saya merindukan itu semua.

Malam menjemput senja. Kemudian saya memutuskan untuk keluar rumah untuk mencari secerca ketenangan dalam hingar bingar jalanan malam. Mampir ke sebuah kedai makanan dan menikmati sebuah minuman yang sudah lama sekali saya ingin nikmati. Ya pada akhirnya saya menikmatinya. Rasanya tidak seaneh yang saya kira sebelumnya. Saya bisa dengan bebas meminumnya. Kemudian secerca ketenangan saya dapatkan, namun dengan konsekuensi pikiran yang tak bisa difokuskan. Berbicara berputar-putar tanpa maksud yang jelas dan tertawa untuk hal yang biasa saja. Terkadang saya suka bagian dimana saya bisa menertawakan hidup saya, diri saya, dan segala kebodohan yang saya perbuat. Ini adalah bagian terindah dalam hidup.

Terimakasih kepada sahabat saya, Shelly yang bersedia menemani saya menikmati malam ini. Semoga semesta selalu bersama mu.