Rahim

Aku mencoba mengingat kapan dan dimana aku bertemu dengan kamu yang kemudian menjadi aku seutuhnya. Jika tidak salah mengingat, kita berjumpa pada suatu ruang yang penuh dengan temaram cahaya. Kamu datang dengan teman-teman gerombolanmu yang banyak dan aku hanya dengan tiga orang teman ku.

Tidak ada kata yang terucap waktu itu. Aku hanya terpaku melihat dirimu dan gerombolan mu datang berdesak-desakan. Saat itu aku gemetar, takut, panik, dan juga berharap. Kamu mulai berjalan semakin cepat dan berusaha mengalahkan anggota gerombolan mu untuk sampai di garis finish. Semakin cepat kamu berjalan, semakin gemetar diriku. Kemudian timbulah rasa harap yang tinggi agar kamu sudi menghampiriku. Ya, harapan ku dikabulkan Semesta raya! Tak lama kamu memilih untuk menghampiriku, menempelkan dirimu kepada diriku. Aku tercengang!

‘Aku akan menjadi manusia!’, ujarku dalam kesunyian. Tanpa banyak kata yang kau ucap, kita tumbuh bersama dalam tempat yang penuh dengan temaram cahaya. Merasakan hangatnya setiap pergerakan yang kita lakukan dalam balutan kain selembut sutra. Dalam belaian kasih-Nya.

Inilah proses untuk menjadi aku,

Aku teringat sekarang dimana kejadian ini berlangsung,

Dalam Rahim seorang Ibu.

Ketika ovum bertemu dengan sperma.