Jar of Hearts

Recently, i very very often listen a song from Christina Perri – Jar of Hearts. At least this song is quite describe my mood . I’m feeling blue for a week :”)

 


Christina Perri – Jar of Hearts

I know I can’t take one more step towards you 

Cause all that’s waiting is regret

And don’t you know I’m not your ghost anymore?

You lost the love I loved the most
I learned to live, half-alive

And now you want me one more time
And who do you think you are?

Runnin’ ’round leaving scars 

Collecting your jar of hearts

And tearing love apart
You’re gonna catch a cold 

From the ice inside your soul

So don’t come back for me

Who do you think you are?
I hear you’re asking all around

If I am anywhere to be found 

I have grown too strong 

To ever fall back in your arms
I’ve learned to live half-alive 

Now you want me one more time
Who do you think you are?

Runnin’ ’round leaving scars

Collecting your jar of hearts

And tearing love apart
You’re gonna catch a cold

From the ice inside your soul

So don’t come back for me

Who do you think you are?

Dear, it took so long

Just to feel alright

Remember how to put back

The light in my eyes
I wish I had missed The first time that we kissed

‘Cause you broke all your promises

And now you’re back you don’t get to get me back

 

WHO DO YOU THINK YOU ARE?

 

 

*lirik diunduh dari http://www.metrolyrics.com/jar-of-hearts-lyrics-christina-perri.html

*gambar diunduh dari google.com

WAKTU

Kemarin siang aku dan sepupuku yang berusia tujuh tahun bermain-main di dalam kamarku. Ia mengacak-acak kamarku, mulai dari peralatan make-up ku sampai kasur pun tak luput dari tangan mungilnya. Kebetulan aku sudah lama gak bertemu dengan dia, maklum dia tinggal di Cilacap jadi kami hanya sesekali bersua. Sepupu ku ini bernama Kayla. Kayla bertubuh mungil dengan rambut lurus dan gigi regesnya, tak luput dengan aksen jawanya yang medok serta cerewet.

Kayla memainkan jam waker Doraemon ku yang terletak di mejaku. Ia memutar-mutar jarum jam sesuka hatinya. Kemudian ia bertanya,

“Teteh, sekarang ini jam berapa?”, katanya sambil menunjukan jam weker kearah ku.

“Jam sepuluh lewat lima”, jawabku singkat.

Kayla terus melanjutkan memutar-mutar jarum jam weker. Dia beberapa menanyakan jam berapa ini sambil terus memutar-mutar jarum jam. Saking asiknya dia bermain dengan jam weker, dia sempat terkaget karena tiba-tiba saja jam weker ku berbunyi karena bertepatan dengan alarm yang biasa aku pasang. Seterlah terkaget dia langsung ketawa karena senang mendengar bunyi alarm. Tak lama ia berhenti memutar-mutar jarum jam. Ia menanyakan pada ku apa guna nya jam? Aku bilang kalau jam itu berguna sebagai penunjuk waktu. Belum selesai aku menjawab, Kayla langsung menyanyakan hal lain,

“Teteh, waktu itu apa ya?”, tanyanya polos

Hemmm, saat itu aku kebingungan mau menjawab apa. Karena sejujurnya aku sendiri masih bingung apa yang dimaksudkan dengan waktu. Namun aku berusaha untuk menjawab dengan sesuatu yang mudah untuk dia pahami.

“Kayla mau tau banget emang? Hehehe. Waktu itu kaya sekarang Kayl, kaya kamu lagi mainan boneka itu juga waktu, atau kalo kamu lagi nangis itu juga waktu. Atau misalnya kalau Kakak Alghi berangkat sekolah jam tujuh, itu juga waktu keyl,” semoga saja Kayla bisa menalar atau setidaknya mengerti.

Kayla hanya menganggukan kepalanya dan tak lama sejurus pertanyaan meluncur lagi dari bibir mungilnya,

“Teh, kan jarum jam bisa berhenti, nah kalau waktu bisa berhenti gak?”

Aduh! Batinku. Pertanyaan macam apa pula ini. Anak berumur tujuh tahun bisa bertanya seperti ini. Aku menarik napas dalam-dalam dan mulai berpikir jawaban apa yang akan kuberikan.

“Waktu gak bisa berhenti Kayl walau jarum jam berhenti. Kan jarum jam hanya sebagai alat penunjuk aja. Coba liat ke jam dinding rumah, emangnya kalo jamnya berhenti kamu ikutan berhenti juga? Engga kan?”

Setelah jawabanku ini Kayla mulai bosen dan melanjutkan dengan menghiasi kutex pada kuku nya. Selama Kayla bermain-main dengan kutex, aku masih saja merenungkan tentang waktu yang baru saja ia tanyakan pada ku.

Waktu. Apa sih waktu? Aku sendiri masih belum bisa mendefinisikan apa itu waktu. Menurut KBBI waktu adalah seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan atau keadaan berada atau berlangsung. Dalam hal ini, skala waktu merupakan interval antara dua buah keadaan/kejadian, atau bisa merupakan lama berlangsungnya suatu kejadian. Pertanyaan tentang waktu sebenarnya sudah lama muncul dalam pikiran ku ketika aku mempelajari Filsafat Ilmu beberapa waktu lalu mengenai waktu.

Kapan waktu tercipta? Kapan waktu habis? Atau tak bisa habis? Apakah Tuhan menciptakan waktu seiring dengan Ia menciptakan dunia dan semesta raya ini? Atau kita kah, manusia, yang menciptakan waktu? Entahlah aku juga tak mengerti kapan waktu tercipta dan siapa yang mencipta. Setahu aku, manusia menyepakati hari, tanggal, dan jam secara bersama-sama. Lalu bisakah aku mengatakan bahwa waktu merupakan kesepakatan bersama? Kalau begitu aku berhak dong untuk membuat waktu atau jam versi aku sendiri?

Kemudian, waktu itu bersifat linier atau sebuah siklus? Mungkin kah waktu sebenarnya hanya sebuah siklus dari sebuah kehidupan yang berputar, kembali ke awal ketika sudah mencapai akhir dan tanpa akhiran pasti? Atau apakah waktu bersifat linier yang terus maju kedepan tanpa pernah mundur lagi kebelakang, seperti garis lurus dengan ujung?

Yang pasti aku ketahui adalah waktu merupakan sebuah proses kehidupan. Tentang runtutan kejadian dalam kehidupan. Apakah waktu linier atau siklus aku belum tahu dan belum bisa menjawabnya karena aku belum tiba pada pengakhiran waktu dalam hidupku. Kapan dan siapa pencipta waktu aku pun belum bisa menjawabnya. Tapi, tenang saja, aku akan menjawabnya kelak ketika aku sudah mencapai akhir dari semuanya. Aku akan menjawab melalui hembusan angin yang akan membawa pesannya. Selamat mewaktu dalam kehidupan! 🙂

Mahasiswa Berprestasi a la Gue

Hai semuanya! Akhirnya gue kembali lagi ke dunia per-BLOG-an ini setelah beberapa minggu ini sibuk ngurusin terpaan badai tugas presentasi, paper, dan UAS. Uhh yeeeaaaaahhhh!! *peluk leptop* Anyway, gimana nih semester ini? Yakin dapet nilai memuaskan gak? Atau malah jeblok? Hahaha

Suatu ketika Ibu gue nanya “Ca, kamu gak ikutan Mapres?” dan gue jawab “buat apaan ikutan Mapres? Wong Ica aja udah jadi Mapres” eeehhh bener aja, Ibu gue langsung percaya. Dengan muka semangat dia bilang, “waaah iya? Kapan? Kok gak dikasih tau?” dan gue jawab “Ya ini yang sehari-hari; ngerjain tugas mepet waktunya, datang telat, ketawa-ketawa kalo dikelas.” Langsunglah gue dijitak sama Ibu gue.

Cerita diatas sebagai cerita pembuka. Tapi sebenernya kalian tau gak sih Mapres itu apa? Mahasiswa yang punya banyak prestasi? IPK nyaris 4? Atau terancam lulus 3,5tahun? Pertama kita tilik terlebih dahulu arti kata berprestasi. Berprestasi menurut KBBI adalah mempunyai prestasi dl suatu hal (dr yg telah dilakukan, dikerjakan, dsb). Jadi Mapres adalah mahasiswa yang mempunyai prestasi.  Hampir semua dari lo pada tau kan mahasiswa berprestasi? Bahkan kalo lo mau jadi Mapres di kampus lo, lo harus ikutan dulu tuh seleksi yang panjang nan ribet. Syaratnya banyak.

Menyandang gelar Mapres emang bikin bangga gitu ya, dikenal orang-orang, dianggep “wah”, oke banget, seolah-olah rajin belajar (kutu buku), dapet beasiswa, terus orang tua biasanya ntar certain ke orang-orang, dsb. Mungkin itu pandangan yang gue tangkep dari kontes Mapres di kampus gue.

Nah, Mapres versi gue beda banget dengan yang ada dibayangan orang-orang pada umumnya. Menurut gue, untuk menjadi Mapres, gak perlu pake audisi atau syarat yang belibet, cukup dengan kemampuan diri lo yang lo punya dan bisa lo kembangkan yang orang lain gak bisa, lo udah jadi Mapres.

Berprestasi bagi gue adalah ketika gue bisa menyelesaikan tuntutan, tugas, atau hal-hal lain dengan rasa kepuasan diakhir.

Contohnya Mapres apa? Contohnya gue ambil dari kegiatan-kegiatan perkuliahan gue selama semester 4 ini. Apa aja contoh Mapres versi gue? Ini lah Mapres a la Icasaurus:

  1. Hobi dari kelas gue adalah datang telat alias ngaret sampe 20-30 menit, yang mana udah ada dosen duduk manis memandang kelas yang sepi.  Mahasiswa mana yang berani datang ngaret segitu lamanya dan itu rombongan. Ada?
  2. Masuk kelas jam 9.00 pagi, tapi gue jam 8.45 masih di Stasiun Tebet nunggu kereta dan masuk kelas jam 9.30 tanpa ada perasaan bersalah
  3. Ngerjain tugas paper 4-6 halaman di hari H pas mau dikumpulin. Kalo masalah ini, temen gue Marlina dan Pretty paling jago banget nih kalo hal ini! Mereka memang Mapres sejati deh!
  4. Bikin presentasi 1 jam sebelum presentasi, tanpa paper. Kemudian kena semprot dosen
  5. Bikin dosen marah dan sensi seterusnya akibat dari satu kelas hobi datang telat ke kelas setiap ada kelas dosen tsb. Sebut saja dosen itu bernama Bunga
  6. Ngerjain UAS open book nunggu jawaban dari satu-dua orang dulu
  7. Ngecengin dan ngetawain dosen secara bersama-sama, beneran Laugh of Loud looohh
  8. Dll

Jadi, cukup berbedakan Mapres versi gue dengan kebanyakan orang? Bagi gue, gelar Mapres bisa disandang sama siapapun. Lo semua punya kemampuan yang sama kok buat dapet gelar Mapres versi gue.

Lo bisa dengan bebas mendefinisikan kata Berprestasi menurut lo.

Kata diciptakan untuk dimaknai, baik secara general atau personal. So, jangan pernah minder kalo lo gak dapet gelar Mapres. Berilah gelar kepada diri lo sendiri, konon itu lebih berkesan. Hahaha. Oya, ingat, IPK bukanlah satu-satunya hal terpenting dalam dunia perkuliahan, yang penting adalah kehidupan lo selama kuliah! Jangan lupa makan tahu-tempe biar gelar Mapres nya makin cool!! Be Your Self and Stay Cool!!

Ps: Untuk menjadi Mapres, perlu keahlian khusus dan dilakukan oleh orang yang professional. Don’t try this at Campus! Hahahaha 😀

Uji Nyali Ramen

Halo semua! Halo Dunia! *lambai-lambai tangan*

Jadi gini, *belom apa-apa, udah langsung jadi*, 2 hari lalu  (23/5/12) gue sama senior gue yang gabut, sebut saja Charisma David Hume, uji nyali bikin Ramen dengan resep yang kita dapet dari blog orang dan tambahan bumbu-bumbu rahasia. Sebelum kita bikin ramen, kita belanja dulu ke Carefour ITC Depok. You know what? Siang kemaren Depok bener-bener panas udah kaya titisan neraka! Yang lebih penting lagi gue gak bawa perlengkapan ninja gue buat naik motor seperti jaket tangan panjang, kaos kaki, masker, dan kaca mata hitam. Alhasil, gue harus rela deh membakar kulit gue yang hitam biar lebih eksotis lagi *ngarep!* Sesampainya di Carefour, kita mulai nyari-nyari bumbu dapur, mie telor, kecap asin, kecap manis, saos, dan pelengkap ramen, yang lebih penting lagi, cari yang harganya paling murah!

Setelah belanja, kita langsung caw ke kosannya David. Pas sampe sana, kita lupa belom beli bawang sama cabe dan sayuran, akhirnya David minta cabe dkk nya itu ke ibu warteg sebelah kosannya dia. Eksperimen pun dimulai di dapur kosannya. Awalnya agak rempong juga masak di dapur orang dengan resep yang agak absurd. Percobaan pertama dimulai dengan merebus mie, lalu menumis berbagai macam bumbu dapur dan ngerebus hiasan ramen. Dan hasilnya adalaaaaaaahhhhhh……. *jeng jeng jeng* GAGAL TOTAL!! Kesalahan di percobaan pertama ini adalah kita ngerebus mie nya kelamaan yang hasilnya mie nya jadi super lembek dan benyek. Rasanya? Jangan ditanya deh! Super gak karuan rasanya!! T.T Kita salah ngeracik bumbu-bumbunya dan salah menempatkan bumbunya. Sebenernya sayang banget ngeliat mie segitu banyak harus gagal semuanya dan harus dibuang.  Ini gambar ramen yang gagal.

Setelah percobaan pertama, si David langsung semangat buat langsung bikin ke percobaan selanjutnya. Gue? Sejujurnya gue agak pesimis kalo lanjut ke percobaan kedua, mengingat hasil yang percobaan pertama gagal luar biasa! Yaudah, langsung deh tuh, kita rebus air dulu sampe mendidih, dilanjut dengan masukin kaldu sapi dan berbagai macam bumbu-bumbuan. Setelah semua bumbunya larut dalam air, baru deh dimasukin mie telornya. Gak lama kemudian, mie nya udah cukup matang dan langsung kita angkat. Masukin mie ke dalam dua mangkuk, satu untuk ibu warteg dan satu nya buat kita cobain sendiri. Kita tata letak mie ramen dan hiasannya sedemikian rupa. Pas dicobain rasanya itu….. PAS BANGET!! Sesuai dengan yang kita harapin. Tapi sayangnya kurang pedesnya. Nah pas dicobain rasanya udah pas, langsung deh tuh si David nganter mie ramennya ke ibu warteg sebelah kosan dia. Ini dia gambar ramen percobaan ke dua yang berhasil ^o^

Lanjut ke percobaan ketiga, kita sekarang ganti mie nya jadi kwetiaw dengan bumbu-bumbu yang sama. Kalo yang ini, rasanya zupeeeeeerrr pedes dan asyin! Percobaan ketiga ini hampir aja gagal karena salah masukin kwetiaw kedalam pancinya, tp Alhamdulillah akhirnya jadi :”) dan setelah yang ini jadi, David langsung kasih mie ini ke Ibu Kosan nya dia dan temennya yang dari tadi mantengin kita masak. Setelah itu, kita ngumpulin komentar dari orang-orang yang nyobain ramennya. Ini dia komentarnya:

Firman (temen kosan David)

“Pedesnya udah bagus,tapi terlalu asin. Ini bumbunya pedas terlalu banyak lada, kurangin dikitlah. Nilai 6.”

Ibu&Bapak Warteg Kosan David

“TOP Vid! Kok bisa sih kamu buat enak gitu. Mienya sih habis, tp kuahnya enggak, pedes.”

Ibu Kosan David

“Enak ko, tapi pedesnya gak nahan banget! Kebanyakan ladanya ini, jadi pedesnya panas banget smp ke kuping!”

Nah kira-kira komentarnya begitu deh. Tujuan kita bikin eksperimen ini adalah kita mau tes rasa di pasaran kaya gimana karena kita (insyaAllah) mau buka usaha ramen. Doain ya semoga berhasil! ^o^ Sekian dulu ya ceritanya, thanks buat semuanya; buat David, Carefour, tukang parkir, ibu kosan David yang ramah banget, ibu&bapak warteg, dan juga teman kosan David. See you!!! :*

PS: Kali aja gitu ada yang penasaran sama David, bisa intip orangnya di twitter @C_Davidhume