Face and The other Emmanuel Levinas

Image            Emmanuel Levinas lahir pada tahun 1906 di Kaunas Lithuania, dalam keluarga keturunan Yahudi. Lithuania pada waktu itu termasuk Rusia di bawah pemerintahan Tsar dan merupakan daerah di mana agama Yahudi dan studi Talmud berakar kuat. Bahasa Rusia adalah bahasa ibu bagi Levinas. Levinas dibesarkan dalam tuntunan Alkitab Ibrani dan pengarang-pengarang klasik Rusia, Tolstoi dan Puschkin. Beberapa tahun lamanya ia disekolahkan di daerah Ukraina di mana ia menyaksikan peristiwa-peristiwa sekitar revolusi Rusia (1917), dan ia menyelesaikan sekolah menengah di tempat asalnya, Kaunas.

            Pada Tahun 1923, ia berangkat ke Prancis untuk studi filsafat yang kemudian ia mendapatkan kewarganegaraan Prancis. Pemikiran Levinas dipengaruhi oleh Husserl, Heidegger, dan juga Dostoyevsky. Pemikiran Levinas berorientasi pada etika. Ia kemudian meninggal pada tanggal 25 Desember 1995.

            Pikiran-pikiran pokok Levinas tergambar melalui beberapa term seperti wajah, the other, infinity, dan totality. Pemikiran Levinas berpusat pada etika. Dalam pemikiran Levinas berbeda dengan para filosof sebelumnya yang berorientasi pada Aku atau biasa disebut sebagai egologia dimana ego merupakan pusat pembahasan para filsof waktu itu. Ia juga berpendapat bahwa filsafat pada awalnya bukanlah metafisika, melainkan etika. Akan tetapi, dalam etika Levinas kita menemukan hal yang berbeda, yaitu pembahasan Levinas bukan mengenai yang baik atau buruk, melainkan relasi yang terjadi pada manusia.

            Pikiran pokok pertama Levinas yaitu mengenai infinity dan the other. Hubungan antarpersonal manusia didasari oleh hubungan Aku-“Yang Lain” (L’un pour l’autre). Dalam egologia, meruduksi semua hal pada totalitas dan mengesampingkan perbedaan. Totalitas ditempatkan sebagai puncak dari egologia yang sering mengorbankan “yang tunggal” pada sistem. Akan tetapi menurut Levinas, totalitas ini bisa dihancurkan oleh yang tak terhingga. Yang tak terhingga adalah the other, yang berbeda dengan saya, berada diluar diri saya yang berakibat runtuhnya totalitas saya ketika berjumpa dengan orang lain. Yang tak terhingga merupakan sesamam manusia yang mengajak diri kita untuk keluar dan melihat realitas yang ada. Untuk merumuskan kejadian ini, Levinas menggunakan istilah wajah (face).

            Menurut Levinas, the other mengungkapkan diri dan memanifestasikan diri. Kehadirannya tidak berbeda dengan benda-benda objektif lainnya. Disini wajah merupakan kehadiran langsung dari the other yang menandakan bawa ada orang lain yang berbeda dari kita. Ketika kita berjumpa dengan wajah, maka kita akan menerima wajah sebagaimana mestinya ketika ia hadir dihadapan kita. Dengan demikian, perjumpaan kita dengan wajah akan mengundang kita untuk menyapa the other dan kita tidak bisa menguasainya. Tentunya wajah yang lain mempunyai karakteristik yang berbeda dengan kita. Wajah yang hadir dihadapan kita merupakan wajah yang “telanjang” dan “luhur”. Telanjang karena ia adalah ia yang lain dari saya tanpa sesuatu apapun yang jadi pengantara. Luhhur karena ia tidak bisa didiamkan saja atau dikesampingkan. Karena hal ini, kita dituntut untu berlaku etis. Wajah-wajah yang hadir dihadapan kita membuat kita tidak berdaya. Wajah-wajah tsb juga ingin diperlakukan sama dengan yang lainnya dengan rasa memelas dan keadilan. Dengan adanya “ketelanjangan wajah” adalah juga kehadiran yang “membutuhkan” di dunia ini: semua orang. Hal-hal tersebut diilhami Levinas sebagai usaha untuk memahami dan mengeksplitasi keunikan yang dimiliki manusia dan merupakan eksploitasi terhadap keunikan yang dimiliki manusia.

 

Seksualitas dipandang melalui Film Sang Penari

PENDAHULUAN

            Sang Penari merupakan sebuah film yang diangkat dari sebuah novel terkenal karya Ahmad Tohari yang berjudul Ronggeng Dukuh Paruk. Di dalam film ini dikisahkan seorang gadis belia yang menghendaki dirinya menjadi seorang ronggeng yang bernama Srintil.Srintil dilukiskan sebagai gadis belia yang cantik, putih, mulus, dan pandai menari, tidak seperti perempuan Dukuh Puruk pada umumnya.Srintil menganggap dirinya memang sudah ditakdirkan untuk menjadi ronggeng, serta untuk menebus kesalahan kedua orang tuanya dulu yang telah menewaskan banyak warga Dukuh Paruk dan untuk menyenangkan arwah Ki Secamenggala- leluhur Dukuh Paruk.

Srintil menganggap bahwa menjadi ronggeng amatlah menyenangkan dan sesuai dengan apa yang dia impikan dulu. Namun kenyataan yang dia terima tidaklah seindah dengan apa yang ia bayangkan. Srintil diharuskan menyerahkan keperawanannya pada seorang lelaki pada acara bukak-klambu sebagai syarat untuk menjadi ronggeng.Tidak hanya itu, dikemudian hari Srintil juga harus menlayani banyak laki-laki pada setiap malamnya. Lelaki yang akan meniduri Srintil sebelumnya telah membuat perjanjian dengan dukun ronggeng (sebutan bagi orang yang mengurus keseharian ronggeng, sejenis mucikari) apa yang akan diberikan kepada Srintil.

Kemudian Srintil mulai merasakan kejenuhan menjadi ronggeng, terlebih lagi Srintil kerap dipaksa oleh dukun ronggengnya untuk melayani lelaki walau ia tidak mau. Srintil mulai berontak dengan tidak mau lagi menari dan menolak semua tawaran lelaki yang ingin tidur bersamanya.

Cuplikan film ini lah yang mengilhami kelompok kami untuk membahas tentang ronggeng ini.Kami disini mencoba menganalisa kehidupan ronggeng. Adapun hal-hal yang menjadi bahasan kelompok kami meliputi ronggeng sebagai simbol kesuburan, hak tubuh dan kekuasaan seksualitas, seksualitas dalam ronggeng sebagai portitusi terselebung, kuasa patriarki dalam ronggeng, dan dampaknya bagi laki-laki.

Sejarah Singkat Ronggeng

Ronggeng adalah tarian rakyat yang telah hidup di Tanah Jawa sejak abad ke-15. Sejarah ronggeng bisa dibilang sama tuanya dengan jejak kehidupan masyarakat agraris tanah Jawa. Letnan Gubernur Jenderal Inggris di Jawa era 1811-1816, Sir Thomas Stamford Raffles menulis dalam The History of Java bahwa ronggeng adalah tradisi populer di kalangan petani Jawa saat itu. Kedekatan petani dan ronggeng tak lepas dari keyakinan, tarian itu awalnya adalah ritual pemujaan terhadap Dewi Kesuburan atau Dewi Sri yang harus terus dilaksanakan untuk mencegah paceklik dan kesialan di desa.

Terdapat beberapa versi tentang asal usul tari ronggeng. Salah satunya ceritanya adalah tentang perkawinan antara Dewi Siti Samboja dan Raden Anggalarang, putra Prabu Haur Kuning dari Kerajaan Galuh, yang tidak mendapatkan restu dari ayahnya. Untuk itu, pasangan suami-isteri tersebut mendirikan kerajaan di Pananjung, yaitu daerah yang kini merupakan Cagar Alam Pananjung di obyek wisataPangandaran.

Suatu saat kerajaan tersebut diserang oleh para perompak yang dipimpin oleh Kalasamudra, sehingga terjadi pertempuran.Namun, karena pertempuran tidak seimbang, akhirnya Raden Anggalarang gugur.Akan tetapi, istrinya, Dewi Siti Samboja, berhasil menyelamatkan diri dan mengembara. Dalam pengembaraannya yang penuh dengan penderitaan, sang Dewi akhirnya menerima wangsit agar namanya diganti menjadi Dewi Rengganis dan menyamar sebagai ronggeng. Di tengah kepedihan hatinya yang tidak terperikan karena ditinggal suaminya, Dewi Rengganis berkelana dari satu tempat ke tempat lainnya. Namun, di matanya masih terbayang bagaimana orang yang sangat ia kasihi telah dibunuh para perompak dan kemudian mayatnya diarak lalu dibuang ke Samudera Hindia.

Singkat cerita, pergelaran ronggeng akhirnya sampai di tempat Kalasamudra dan Dewi Samboja dapat membalas kematian suaminya dengan membunuh Kalasamudra ketika sedang menari bersama.Cerita mengenai asal usul tari yang digunakan untuk “balas dendam” ini membuat ronggeng terkesan mistis.

Dalam perkembangannya, begitu banyak catatan mengenai sebutan atas tarian ini.Masyarakat Betawi dan Jawa Barat mengenalnya sebagai ngibing. Pantai Utara Jawa menyebutnya dombret dan sintren.Tanah Parahyangan menamakannya ronggeng gunung. Tayub, lengger, dan ledhek gandrungdikenal di sekitar Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Jauh sebelum era Raffles, ternyata ronggeng dekat dengan penyebaran agama Islam. Ada sebuah cerita pada 1450 bahwa Sunan Kalijaga sengaja tak memberikan jarak antara agama yang sedang ia sebarkan dan tradisi yang telanjur mengakar. Ketika itu Sunan Kalijaga ikut menari tayub meski harus bersembunyi di balik topeng.

Di Banyumasronggeng seolah menjadi identitas kota. Tak sulit menemukan lengger, sebutan untuk penari ronggeng.Namun seiring berkembangnya zaman, keberadaan mereka kini tak lagi rekat dengan kegembiraan masa panen.Ronggeng pun tak lagi terkait urusan padi dan Dewi Sri.Zaman telah mengiringi ronggeng menjadi ruh penghibur dalam hajatan masyarakat desa.

Kini, tari ronggeng adalah menu hiburan penting di Banyumas. Mementaskannya dalam hajatan akan memberi kebanggaan bagi sang pemilik hajat. Nama mereka harum di mata warga yang terhibur oleh tarian semalam suntuk itu.

Di Ciamis selatan, tari ronggeng bukan hanya menjadi sarana hiburan semata, tetapi juga digunakan sebagai pengantar upacara adat seperti: panen raya, perkawinan, khitanan, dan penerimaan tamu. Mengingat fungsinya yang demikian, maka sebelum pertunjukan dimulai, diadakan sesajen untuk persembahan kepada para leluhur dan roh-roh yang ada di sekitar tempat digelarnya tarian, agar pertunjukan berjalan dengan lancar.

Kebermaknaan Seksualitas

Aturan moral tentang seksualitas diatur oleh budaya. Budaya yang tidak pernah sama di suatu tempat dan selalu bersifat dinamis  maka aturan moral tentang seksualitas pun ikut berubah. Mari kita ingat beberapa kasus sederhana , misalnya berpacaran. Dahulu berpacaran dilakukan secara sembunyi-sembunyi tetapi saat ini berpacaran sudah seperti tidak ada batasan. Pada zaman dahulu, homoseksual dikucil bahkan diusir warga kampung. Namun, seiring berjalannya waktu, kaum homoseksual lesbian, dan transgender mulai diterima di masyarakat. Oleh karena itu, wajar jika kita kemudian beranggapan bahwa masa depan mungkin akan ditandai dengan kebebasan seks, jika mengingat semakin bebasnya manusia mengekspresikan seksualitasnya.

Pemaknaan mengenai seksualitas seringkali tidak pada tempatnya. Seksualitas tidak jarang diidentikkan dengan sesuatu yang porno dan  bersifat negatif. Hal ini sangat erat kaitannya dengan faktor budaya, yang terefleksi dari mitos-mitos dan tradisi yang berkembang di masyarakat. Selain itu, tafsir agama juga ikut berperan penting atas cara pandang masyarakat tentang tubuhnya, seksualitasnya, yang secara langsung ataupun tidak, terkait dengan kesehatan reproduksi dan seksualnya. Hal ini dikarenakan seksualitas merupakan konstruksi sosial atas nilai, orientasi, dan prilaku yang berkaitan dengan seks.

Seksualitas sebagai sebuah konstruksi sosial bisa ditunjukkan melalui berkembangnya anggapan di masyarakat bahwa virginitas dilekatkan pada perempuan, sementara laki-laki ditolerir karena mencerminkan maskulinitasnya.  Hal ini menunjukkan bagaimana dorongan seksual individu berkonteks budaya, termasuk merupakan hasil pembelajaran sosial berbasis gender Pada dasarnya dorongan seksual bersifat sangat manusiawi dan personal. Kebutuhan yang sama dimiliki oleh laki-laki dan perempuan. Namun, yang kemudian  menjadi persoalan adalah ekspresinya yang dikonstruksikan secara berbeda. Realitas ini menunjukkan bagaimana kontruksi sosial tentang seksualitas berbeda pemaknaannya bagi masing-masing konteks masyarakat. Dalam upaya rekonstruksi sosial, yang dibutuhkan tidak hanya peraturan yang bisa mengakomodasi setiap kepentingan yang sifatnya sangat personal tersebut, tetapi juga iklim sosial budaya yang kondusif.

Seksualitas dipengaruhi oleh norma dan peraturan kultural yang menentukan apakah sebuah prilaku dapat diterima atau tidak berdasarkan suatu kultur. Banyak yang masih mengungkapkan bahwa seksualitas yang dianggap baik dan normal serta natural adalah yang heteroseksual, monogami, reproduktif dan non komersial, seks apapun yang melanggar peraturan ini dianggap buruk atau abnormal serta tidak natural. Menurut Rubin, Foucault dan Butler, seksualitasbukan fenomena biologis yang merupakan kenyataan ilmiah, melainkan merupakan sebuah konstruksi sosial

Budaya memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap seksualitas. Hampir semua aspek seksualitas dipengaruhi budaya. Pengaruhnya dimulai dari cara mendidik anak dalam membangun identitas seksual dan gender, pembentukan orientasi seksual, dan pembagian peran gender. Budaya mengatur mana yang baik dan buruk, mana yang boleh dan tidak dalam perkara seksualitas. Pada kasus ronggeng ini, kelompok kami kembali mempertanyakan kebermaknaan seksualitas yang tercermin darinya. Lenggak-lenggok tariannya yang indah tidak jarang selalu diidentikkan dengan erotisme. Sebuah tarian, produk budaya yang bersifat indah dan mewakili free willdari seorang individu, terpaksa harus dipasung dengan label baik atau buruk. Anggapan miring dan kecaman mengenai ronggeng sudah bukan hal asing lagi, padahal di sisi lain pun banyak yang diam-diam menikmati.

Seksualitas hadir bukan sebatas urusan hasrat biologis saja, ada relasi yang sangat kompleks yang membuat manusia itu menjadi manusia yang seutuhnya. Jika urusan seksualitas adalah hubungan biologis saja maka manusia tak ubahnya seperti binatang yang mengedepankan pemuasan biologis saja.

Ronggeng Sebagai Simbol Kesuburan

Di dalam film sang penari diperlihatkan bahwa Srintil sebagai penari ronggeng tidak hanya diharuskan mempertontonkan sebuah tarian untuk menghibur warga desa dukuh paruk serta mengajak penonton pria menari bersamanya. Akan tetapi ada sebuah tradisi yang dinamakan ‘bukak klambu’ dimana Srintil diharuskan melakukan hubungan seksual dengan penonton yang mampu membayar seharga yang ditentukan oleh Kertareja. “ Ronggeng itu bukan hanya perkara urusan nari, tapi juga urusan kasur, urusan dapur, urusan sumur”[1].  Laki-laki yang mengikuti tradisi bukak klambu ini kebanyakan adalah laki-laki yang telah beristri dimana sang istri dengan senang hati merelakan suaminya melakukan hubungan seksual dengan srintil dengan harapan bahwa setelah melakukan prosesi tersebut suaminya dapat menghamilinya atas berkat kesuburan yang diperoleh dari Srintil. Hal ini terlihat dalam sebuah scene saat seorang laki-laki baru saja selesai melakukan hubungan seksual dengan Srintil di sebuah kamar. Lalu istri dari laki-laki itu masuk ke kamar tersebut, membangunkan suaminya kemudian mengucapkan terimakasih kepada Srintil serta memberikan sebuah sandal sebagai ucapan terimakasihnya yang mendalam.

Dengan menggunakan system semiotika Charles Sanders Pierce kita dapat melihat bahwa dalam konteks tersebut Srintil selaku penari ronggeng diberikan pengahargaan sebagai symbol kesuburan.

Keberadaan Srintil sebagai symbol kesuburan di Dukuh Paruk dapat diverifikasi pada runutan sejarahnya seperti telah disebutkan dalam pembahsan sebelumnya bahwa pada awalnya tarian ronggeng merupakan persembahan atau bentuk pemujaan pada dewi Sri atau dewi kesuburan.

Patriarki dalam Ronggeng dan Dampaknya Pada Laki-Laki

Dalam fillm Sang Penari kita juga melihat ketika kaum laki-laki Dukuh Puruk berlomba-lomba untuk menjadi laki-laki pertama yang “mewisuda” atau meniduri ronggeng Srintil pada acara bukak-klambu. Bukak-klambu merupakan salah satu syarat yang ditujukan pada sang calon ronggeng. Bukak-klambu adalah semacam sayembara, terbuka bagi laki-laki manapun. Yang disayembarakan merupakan keperawanan sang ronggeng[2].  Laki-laki yang berhak mengikuti bukak-klambu merupakan laki-laki yang menyanggupi prasyarat dari sang dukun ronggeng yang mengurus ronggengnya. Syarat yang diajukan oleh dukun ronggeng bermacam-macam rupanya, namun pada film Sang Penari ini dukun ronggeng menawarkan kepada seleruh laki-laki yang mau mengikuti bukak-klambu harus menyerahkan sekeping koin emas yang saat itu setara dengan sebuah kerbau besar.

Sejak diumumkannya acara bukak-klambu sebagai syarat untuk menjadi ronggeng seutuhnya, para laki-laki sibuk membicarakan acara bukak-klambu dan saling berebutan untuk menjadi orang pertama yang bisa “mewisuda” sang ronggeng. Lalu bagaimana dengan perempuan lain yang ada di Dukuh Puruk? Perempuan di Dukuh Puruk justru sangat mendukung hal ini, terlebih jika suami mereka yang terpilih menjadi laki-laki yang beruntung untuk melakukan acara bukak-klambu. Hal ini tergambar jelas dalam salah satu scene di film Sang Penari dan cuplikan novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari.

“Nanti kalau Srintil sudah dibenarkan bertayub, suamiku menjadi laki-laki pertama yang menjamahnya,” kata seorang perempuan

“Jangan besar cakap,” kata yang lain. “Pilihan seorang ronggeng akan jatuh pertama pada laki-laki yang memberinya uang paling banyak. Dalam hal ini suamiku tak bakal dikalahkan.”

“Tetapi suamimu sudah pikun. Baru satu babak menari pinggangnya akan terkena encok.”“Tetapi jangan sombong dulu. Aku bisa menjual kambing agar suamiku mempunyai cukup uang. Aku tetap yakin, suamiku akan menjadi laki-laki yang pertama yang mencium Srintil.”

“Tunggulah sampai saatnya tiba. Suami siapa yang bakal menang. Suamiku atau suamimu.”[3]

Demikianlah salah satu cuplikan dari novel Ronggeng Dukuh Paruk yang tergambar jelas pada salah satu scene di film Sang Penari. Dalam bagian ini jelas sudah bahwa para perempuan di Dukuh Paruk mendukung suaminya untuk ikut acara bukak-klambu. Disini terlihat jelas bahwa laki-laki yang menjadi orang pertama yang bisa meniduri ronggeng dianggap sebagai laki-laki yang mapan, jantan, dan menjadi orang yang akan dikagumi serta menjadi buah bibir seantero desa. Para laki-laki berusaha untuk terlihat mampu dan berlomba-lomba untuk mendapatkan virginitas seorang ronggeng.Hal-hal seperti itu lah yang diharapkan ketika sudah tidur dengan ronggeng.Akan tetapi, hal tersebut justru mengisyratkan adanya sebuah tekanan sosial bagi kaum laki-laki.

Tekanan sosial yang dihadapi bagi laki-laki adalah orang akan menganggap laki-laki itu bukan laki-laki kalau dia tidak mampu untuk meniduri ronggeng. Hal ini mencerminkan kesejahteraan dan kemapanan bagi seorang laki-laki.Bukan hanya itu saja, tekanan sosial ini juga berdampak bagi kaum perempuan. Perempuan di Dukuh Paruk beranggapan bahwa jika suaminya bisa meniduri ronggeng akan memberikan sebuah gengsi tersendiri baginya.

Disisi lain terlihat, secara tidak langsung perempuan dianggap mandul apabila tidak mempunyai keturunan, walaupun kemandulan itu sebenarnya berasal dari suaminya. Para perempuan disini juga berharap apabila suaminya telah meniduri ronggeng diharapkan juga akan membawa kesuburan bagi istrinya dan semakin harmonis hubungan suami-istri mereka.

Hak Tubuh Ronggeng dan Kekuasaan Seksualitas

Diceritakan dalam film Sang Penari, sebagai ronggeng, tersirat bahwa tubuh Srintil adalah milik keluarga Kartareja yang mengurus Srintil sebagai ronggeng di daerah Dukuh Paruk. Lebih luas lagi, bahkan dapat dikatakan bahwa secara kolektif tubuh Srintil sudah menjadi milik seluruh Dukuh Paruk karena peran dia sebagai ronggeng di daerah Dukuh Paruk. Secara singkat, Srintil kehilangan hak untuk mengatur tubuhnya sendiri. Ada bujukan yang dilakukan oleh Nyai Kertareja agar Srintil dapat menjadi ronggeng lebih lama yaitu dengan membuat Srintil sulit untuk hamil. Walaupun Srintil menolak keras bujukan Nyai Kertareja, Srintil tetap terjebak dalam keadaan yang memaksa Srintil untuk menunda kehamilannya karena Dukuh Paruk “membutuhkan” Srintil sebagai ronggeng.

Menurut Michael Foucalt, ketika kita berbicara tentang seksualitas, tidak saja kita hanya membicarakan tentang tubuh dan kenikmatan. Kita juga akan membicarakan tentang kekuasaan dan kontrol yang berperan dibalik kenikmatan yang dirasakan tubuh[4]. Kekuasaan tidak hanya mengatur interaksi sosial-politik dari sekumpulan manusia namun secara individu, kekuasaan juga menaruh kontrol dalam mengatur tubuh manusia.

Kekuasaan dalam hal ini tidak dalam artian sesempit negara, namun keputusan-keputusan kolektif suatu kumpulan masyarakat juga memiliki unsur politik atau kepentingan untuk menancapkan kekuasaan beberapa pihak sebagai pemimpin suatu kumpulan masyarakat. Dalam kasus film Sang Penari, terdapat kekuasaan yang dipraktekkan antara Kertareja sebagai dukun ronggeng dengan Srintil, sang ronggeng sendiri. Menurut Michel Foucault, kekuasaan tidak pula berupa hal yang buruk. Kekuasaan dalam artian Foucault bukan menjadi hal yang “dimiliki” melainkan sebagai aturan, kondisi, susunan, dan system yang umum dilakukan dalam antar individu. Misalnya hubungan antara Kertareja dengan Srintil terdapat praktik kuasa contohnya Kertareja mengatur Srintil kapan ia harus meronggeng, dengan siapa ia akan tidur; begitu pula Srintil juga mengkondisikan relasinya dengan Kertareja saat ia tidak mau “joget” (baca: menari/meronggeng) karena sesuatu yang mengganggu kondisi hatinya sehingga jiwanya menolak untuk joget, hingga pemberontakan-pemberontakan yang dilakukan Srintil. Semua itu dapat dilihat sebagai sebuah relasi sistem kekuasaan yang terjadi antara Kertareja dengan Srintil, dimana merupakan titik pusat konflik yang bagi kami patut diangkat.


[1]Dialog dalam film Sang Penari

[2]Ronggeng Dukuh Paruk, hlm. 51

[3]Ibid. hlm. 38

[4]History of Sexuality

**Tulisan ini merupakan tugas kelompok Filsafat Budaya. Penulisnya: Amira Hasna, Annisa Himmatu, Marlina Sopiana, Shelli Rachel, dan Sanjiva

Nietzsche: Herd Mentality and Master Mentality

Image

Bila diterjemahkan kalimat “Man is a rope stretched between the animal and the superman” akan menjadi manusia adalah jembatan yang terbentang antara hewan dan manusia unggul. Kalimat ini tertera dalam salah buku popular dari Nietzsche yang berjudul Thus Spake Zarathustra. Sebelum kalimat ini muncul, Nietzsche mengatakan God is dead! yang kemudian  menjadi terkenal seantero dunia. Dalam buku ini ada seorang manusia unggul yang ia ciptakan bernama Zarathustra. Manusia yang selama ini ia impikan, manusia yang bisa memenangkan dirinya sendiri.

Nietzsche menekankan pada kehendak manusia untuk mencapai kekuasaan sebagai kekuatan yang menggerakan dunia. Nietzsche juga menolak institusi agama karena agama membuat manusia tidak bebas dan menunjukan gugatan Nietzsche tentang manusia, kebebasan, dan tanggung jawab.

Nietzsche tidak menyukai manusia-manusia yang terkungkung dalam dogma-dogma agama yang berkasihan-kasihan, lemah, tidak bebas dan takut akan dosa. Menurut Nietzsche hal ini akan membatasi manusia dalam membentuk dirinya menjadi manusia unggul. Menurut Nietzsche agama hanyalah tempat pelarian bagi manusia untuk melemparkan tanggung jawabnya. Moralitas yang ada pada agama seperti untuk tidak membalas, berkasihan, kerelaan hati, hanyalah sifat-sifat dari budak. Oleh karena itu hadirlah konsep manusia unggul (ubermensch). Ubermensch yang dimaksud disini adalah manusia sesudah manusia yang kita kenal, yang merupakan manusia masa lampau dan masa sekarang yang ditandai oleh moralitas budak yang berakar dalam kepercayaan kepada Allah. “manusia diseberang manusia” ( Franz Magnis, Menalar Tuhan, 76).

Manusia unggul adalah manusia yang berani menghadapi dunia, yang tidak berpasrah diri pada dogma-dogma agama. Nietzsche ingin keluar dari keterbatasan dirinya. Konteks terpentingnya adalah “kehendak” itu sendiri. Seperti yang dikatakan oleh Nietzsche ada dua jenis manusia; Herd mentality dan Master mentality. Herd mentality hanyalah kerumunan untuk menjaga hidup dalam ketenangan, sedangkan master mentality adalah filsuf yang mempunya philo-nya sendiri. Untuk dapat menjadi manusia unggul diperlukan master mentality dimana manusia harus terbebas dari rasa berdosa dan kecemasannya untuk mengeksplor dirinya. Manusia juga mempunyai naluri alamiah seperti hewan. Naluri ini bisa digunakan manusia dalam menghadapi kehidupan yang penuh akan pilihan dan bahaya. Namun naluri ini sangat berbeda dengan yang dimiliki oleh hewan, manusia menggunakan naluri ini dengan menggunakan rasionya. Dengan menggunakan naluri alamiah yang berdasarkan rasio, manusia berusaha untuk menyebrangi atau melampaui manusia masa lampau dari sifat-sifat budak untuk memenangkan dirinya sendiri.

Relasi I-It I-Thou dengan Pohon Martin Buber

Martin Buber merupakan seorang yang religius. Bukunya yang paling terkenal adalah I and Thou. Dalam buku ini Buber mengajukan konsep utamanya berupa Primary Words; I-It dan I-Thou. Buber memberikan contoh dari pohon sebagai relasi dari I-It dan I-Thou. Menurut Buber, pohon merupakan bentuk yang cocok untuk dijadikan contoh karena Pohon mempunyai relasi hubungan timbal balik tidak secara langsung. Pohon disini dilambangkan sebagai it dan ImageThou.

Pada proses menjadi I-It adalah ketika kita mulai melihat apa yang terlihat pada pohon itu, kemudian melakukan pengamatan tentang pergerakan-pergerakan yang terjadi pada pohon tsb. Pohon melakukan kegiatan yang terus bekesinambungan, seperti yang bernapas dari daun, akar menghisap air, yang tak putus-putusnya kegiatan antara pohon dan bumi dan udara, dan pertumbuhan pohon. Setelah melakukan pengamatan kemudian kita melakukan pembelajaran terhadap pohon tsb. Proses-proses ini mengandung tiga unsur pada I-It yaitu experience, means-need relation, dan not whole being dimana pohon ini hanya menjadi pendukung untuk I.

Buber menggambarkan pohon tersebut dengan bagian-bagian serta lingkungan yang dapat mendukungnya menjadi Thou bagi I itu sendiri. Ketika pohon tersebut sudah menjadi Thou, maka sudah tidak ada penghalang lagi diantara relasi keduanya. Untuk bisa mencapai Thou, diperlukan openness (keterbukaan). Keterbukaan ini bukan seperti yang kita anggap sebagai curhat dengan lisan melainkan dengan kesadaran-kesadaran kita sebagai I-Thou. Relasi I-Thou bisa didapatkan dari spiritual being, seperti saling mempercayai satu sama lainnya. Perubahan dari I-It ke I-Thou bisa dilahat dari relasinya; untuk I-It orang akan melihat pohon itu sebagai benda yang biasa, tidak ada perasaan special yang menyentuh hati, sedangka untuk I-Thou telah membangun sebuah relasi dengan memandang pohon tsb sebagai benda yang memiliki nilai estetis dan berharga.

Pohon yang telah menjadi Thou akan menjadi bagian dari I itu sendiri. Semuanya seperti telah bersatu antara IThou. Apa yang menjadi kebahagian I akan juga menjadi kebahagian Thou, kesedihan I akan menjadi kesedihan Thou, dst. Relasi yang terjadi antara I-Thou terjadi pada saat ini juga, tidak di masa lalu atau di masa depan. I-Thou bisa kembali menjadi I-it apabila kita memikirkan kembali atribut yang berada pada Thou.

Refrensi:

-Fotokopi I and Thou Martin Buber

-Catatan Perkuliahan Eksistensialisme

-http://painsilencer.blogspot.com/2010/12/i-and-thou-martin-buber.html. Diunduh pada tanggal 26 Oktober 2011 pukul 23.00

Gabriel Marcel: Eksistensi Orang yang Sudah Meninggal

Siapa Gabriel Marcel? Gabriel Marcel adalah filsuf asal Prancis. Marcel dilahirkan di Paris pada tahun 1889. Ayahnya merupakan seorang Katolik dan ibunya seorang Yahudi. Marcel merupakan filsuf fenomenologi dan eksistensialisme terkenal di Paris. Bagi saya, Marcel merupakan filsuf paling romantis sepanjang saya mempelajari filsafat. Tidak ada filsuf lain yang bisa mengalahkan keromantisan Marcel. Hehehe 😀 Berikut ini ulasan singkat mengenai pemikiran Marcel tentang kematian. Ulasan ini merupakan tugas Eksistensialisme. Selamat menikmati.

Menurut Marcel, orang yang sudah meninggal tetap mempunyai eksistensi pada orang yang masih hidup. Hal ini bergantung pada bagaimana manusia tsb memandang orang yang sudah meninggal. Ada dua hal mendasar dan penting bagi Marcel, yaitu Having dan Being. Jika manusia tersebut hanya menerima orang yang sudah meninggal dinamakan Having. Having merupakan sekedar asimilasi dan sesuatu yang diobjektivikasikan terhadap yang kita punya. Kematian disisni, jika dipandang dari Having, manusia yang masih hidup menganggap kematian tersebut sudah melebur atau berasimilasi kepada orang yang mati itu. Karena hal itu, eksistensi orang yang mati tidak bisa hadir ditengah-tengah orang yang hidup.

Berbeda dengan Being. Jika orang yang masih hidup dan menganggap orang yang mati sebagai being, eksistensinya masih akan tetap hadir. Being adalah bagaimana kita memandang manusia secara keseluruhan dan eksistensinya selalu hadir (presence) dan utama (primary). Jadi, walaupun kematian sudah menjadi hal yang melekat pada orang yang telah mati, namun, Being orang tersebut selalu hadir dalam orang yang masih hidup.

Eksistensi orang yang sudah mati akan tetap hadir dalam orang yang masih hidup apabila ada sesuatu dari orang yang sudah mati menyatu (uniting) dengan orang yang masih hidup. Selain itu kematian tidak hanya diajadikan sebuah problem bagi orang yang masih hidup dengan mereduksi apa yang ada di dunia, melainkan dengan menjadikan kematian sebagai mystery. Jika sudah menjadi mystery, sesuatu dimana orang tersebut telah terlibat didalamnya dan tidak ada lagi perbedaan dimensi dunia antara orang yang masih hidup dan yang telah mati.

Mercel juga mengungkapkan bahwa eksistensi orang yang sudah mati bisa akan tetap hadir apabila ada sesuatu yang uniting dan dibarengi dengan adanya creative fidelity (kesetiaan). Kesetiaan disini adalah kesetian orang yang masih hidup dengan yang sudah mati walaupun banyak pertentangan yang hadir dari dunia eksternal. Kesetiaan yang menghadirkan Being dari orang yang sudah mati dan tidak serta merta menerima kematian sebagai mystery. Penjamin dari creative fidelity adalah hope. Harapan yang terus tumbuh dalam orang yang masih hidup untuk selalu setia kepada yang sudah mati .

Contoh cerita supaya lebih mudah memahami

  1. Srintil mempunyai kekasih yang bernama Rasus. Keduanya sudah berteman dari kecil. Rasus sudah berjanji kepada Srintil bahwa ia akan menikahi Srintil. Namun sebelum pernikahan itu terealisasikan, Rasus diangkat menjadi tentara dan ditugaskan di luar desa Dukuh Paruk. Tak lama kemudian, Rasus dikabarkan meninggal saat berperang. Srintil merasa sedih karena ditinggal sendiri, akan tetapi Srintil juga masih merasakan Rasus masih hadir disisinya. Hal ini bisa dikarenakan karena hubungan yang terjalin diantara Srintil dan Rasus cukup lama. Kehadiran Rasus pada disisi Srintil adalah Being dari Rasus. Srintil memaknai Rasus secarah keseluruhan dan telah bersatu (uniting) terhadap dirinya. Srintil juga tetap setia kepada Rasus (creative fidelity). Srintil menganggap kematian Rasus sebagai sebuah mystery, bukan problem.
  2. Bayu adalah seorang gitaris dan vocalis handal dan terkenal dari salah satu band music yang terkenal. Kecintaan Bayu pada musik yang menjadikannya seperti sekarang ini. Akan tetapi, nasib malang menyambangi Bayu. Bayu mengalami kecelakaan yang mengakibatkan dirinya tidak dapat bermain musik lagi. Bayu tidak begitu saja menyerah pada takdir, ia tetap mempunyai semangat dan harapan untuk terus berkarya dalam musik lagi. Harapan ini lah yang membuat bayu tetap setia pada kecintaannya pada musik dan terus bertahan untuk bisa sembuh dan kembali berkarya.
  3. Timnas Indonesia dalam sebuah pertandingan sepak bola mengalami kekalahan pada babak pertama dengan tim lawan 1-4. Selain itu pemain juga banyak yang cedera dan hal ini mengakibatkan mental turun. Tentu saja situasi seperti ini bisa mengakibatkan keputus asaan yang lebih cepat. Namun, pemain Timnas tidak begitu saja langsung berputus asa. Mereka mempunyai creative fidelity untuk terus berjuang dan mengharumkan nama bangsa. Selain itu, creative fidelity mereka didukung juga oleh harapan. Harapan ini lah yang akan terus mendukung Timnas untuk terus bertahan dan mengharumkan nama bangsa. Harapan ini muncul dalam diri mereka sendiri sebagai penjamin creative fidelity untuk mencapai kemenangan.