Segelas Anggur

Kamu menumpahkan masa lalu dalam satu gelas anggur

Kemudian kamu meminumnya

Kamu mabuk masa lalu

Kamu mencoba bangkit

Sayang, kamu terlalu mabuk

Kemudian kamu terjatuh lagi

Berteriak minta dibangunkan dari masa lalu

Sayang, tak ada orang yang menolongmu

Pikiranmu disesaki bayangan perempuan itu

Perempuan yang dulu kamu anggap sebagai masa depan

Tapi sayang, dia kini hanya menjadi masa lalu mu

Masa lalu yang kamu minum dengan racun

Sebentar lagi kamu akan terbunuh

Masa lalu…..

 

 

 

 

Seandainya kamu tidak meminum anggur itu…..

 

 

WAKTU

Kemarin siang aku dan sepupuku yang berusia tujuh tahun bermain-main di dalam kamarku. Ia mengacak-acak kamarku, mulai dari peralatan make-up ku sampai kasur pun tak luput dari tangan mungilnya. Kebetulan aku sudah lama gak bertemu dengan dia, maklum dia tinggal di Cilacap jadi kami hanya sesekali bersua. Sepupu ku ini bernama Kayla. Kayla bertubuh mungil dengan rambut lurus dan gigi regesnya, tak luput dengan aksen jawanya yang medok serta cerewet.

Kayla memainkan jam waker Doraemon ku yang terletak di mejaku. Ia memutar-mutar jarum jam sesuka hatinya. Kemudian ia bertanya,

“Teteh, sekarang ini jam berapa?”, katanya sambil menunjukan jam weker kearah ku.

“Jam sepuluh lewat lima”, jawabku singkat.

Kayla terus melanjutkan memutar-mutar jarum jam weker. Dia beberapa menanyakan jam berapa ini sambil terus memutar-mutar jarum jam. Saking asiknya dia bermain dengan jam weker, dia sempat terkaget karena tiba-tiba saja jam weker ku berbunyi karena bertepatan dengan alarm yang biasa aku pasang. Seterlah terkaget dia langsung ketawa karena senang mendengar bunyi alarm. Tak lama ia berhenti memutar-mutar jarum jam. Ia menanyakan pada ku apa guna nya jam? Aku bilang kalau jam itu berguna sebagai penunjuk waktu. Belum selesai aku menjawab, Kayla langsung menyanyakan hal lain,

“Teteh, waktu itu apa ya?”, tanyanya polos

Hemmm, saat itu aku kebingungan mau menjawab apa. Karena sejujurnya aku sendiri masih bingung apa yang dimaksudkan dengan waktu. Namun aku berusaha untuk menjawab dengan sesuatu yang mudah untuk dia pahami.

“Kayla mau tau banget emang? Hehehe. Waktu itu kaya sekarang Kayl, kaya kamu lagi mainan boneka itu juga waktu, atau kalo kamu lagi nangis itu juga waktu. Atau misalnya kalau Kakak Alghi berangkat sekolah jam tujuh, itu juga waktu keyl,” semoga saja Kayla bisa menalar atau setidaknya mengerti.

Kayla hanya menganggukan kepalanya dan tak lama sejurus pertanyaan meluncur lagi dari bibir mungilnya,

“Teh, kan jarum jam bisa berhenti, nah kalau waktu bisa berhenti gak?”

Aduh! Batinku. Pertanyaan macam apa pula ini. Anak berumur tujuh tahun bisa bertanya seperti ini. Aku menarik napas dalam-dalam dan mulai berpikir jawaban apa yang akan kuberikan.

“Waktu gak bisa berhenti Kayl walau jarum jam berhenti. Kan jarum jam hanya sebagai alat penunjuk aja. Coba liat ke jam dinding rumah, emangnya kalo jamnya berhenti kamu ikutan berhenti juga? Engga kan?”

Setelah jawabanku ini Kayla mulai bosen dan melanjutkan dengan menghiasi kutex pada kuku nya. Selama Kayla bermain-main dengan kutex, aku masih saja merenungkan tentang waktu yang baru saja ia tanyakan pada ku.

Waktu. Apa sih waktu? Aku sendiri masih belum bisa mendefinisikan apa itu waktu. Menurut KBBI waktu adalah seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan atau keadaan berada atau berlangsung. Dalam hal ini, skala waktu merupakan interval antara dua buah keadaan/kejadian, atau bisa merupakan lama berlangsungnya suatu kejadian. Pertanyaan tentang waktu sebenarnya sudah lama muncul dalam pikiran ku ketika aku mempelajari Filsafat Ilmu beberapa waktu lalu mengenai waktu.

Kapan waktu tercipta? Kapan waktu habis? Atau tak bisa habis? Apakah Tuhan menciptakan waktu seiring dengan Ia menciptakan dunia dan semesta raya ini? Atau kita kah, manusia, yang menciptakan waktu? Entahlah aku juga tak mengerti kapan waktu tercipta dan siapa yang mencipta. Setahu aku, manusia menyepakati hari, tanggal, dan jam secara bersama-sama. Lalu bisakah aku mengatakan bahwa waktu merupakan kesepakatan bersama? Kalau begitu aku berhak dong untuk membuat waktu atau jam versi aku sendiri?

Kemudian, waktu itu bersifat linier atau sebuah siklus? Mungkin kah waktu sebenarnya hanya sebuah siklus dari sebuah kehidupan yang berputar, kembali ke awal ketika sudah mencapai akhir dan tanpa akhiran pasti? Atau apakah waktu bersifat linier yang terus maju kedepan tanpa pernah mundur lagi kebelakang, seperti garis lurus dengan ujung?

Yang pasti aku ketahui adalah waktu merupakan sebuah proses kehidupan. Tentang runtutan kejadian dalam kehidupan. Apakah waktu linier atau siklus aku belum tahu dan belum bisa menjawabnya karena aku belum tiba pada pengakhiran waktu dalam hidupku. Kapan dan siapa pencipta waktu aku pun belum bisa menjawabnya. Tapi, tenang saja, aku akan menjawabnya kelak ketika aku sudah mencapai akhir dari semuanya. Aku akan menjawab melalui hembusan angin yang akan membawa pesannya. Selamat mewaktu dalam kehidupan! 🙂

Bayang-bayang Senja

Senja datang menjemput matahari kembali ke peraduannya. Rona matahari merah terang menyiratkan kebahagiaan karena tugasnya telah berakhir, awan bergerumul menuju suatu tempat tanpa batas, burung-burung saling bersahutan.Begitupula dengan anak manusia yang merasa seketika bebas dari beban kerjanya. Senja yang syahdu, yang selalu ditunggu oleh kebanyakan orang, saat tepat untuk perenungan. Bagaimanapun, senja selalu membawa kesenangan bagi setiap orang yang mencintainya. Begitupula dengan aku, aku sangat mencintai Senja Tunggadewi, seorang perempuan berparas manis, berdarah campuran Kalimantan dan Jawa. Seperti namanya, Senja membuat kesyahduan dalam kehidupan ku dengan sifat manjanya, ketulusannya, kasih sayangnya, dan bibirnya yang seperti bulan sabit. Kau tahu kan bulan sabit? Ya, bulan yang hanya setengah lingkaran, begitulah bibir Senja, senyuman selalu menghiasi bibir mungilnya. Aaaahhh, rasanya aku tak bisa mendeskripsikan Senja dengan jelas karena Senja terlalu indah.

Senja adalah perempuan yang saat ini aku mengahbiskan waktu dengannya, namun sayangnya waktu tak pernah habis. Senja, sebuah nama yang tak pernah aku bosan untuk menyebutnya. Sudah tiga tahun ini aku mencoba menghabiskan waktu ku bersama Senja. Senang rasanya aku berada disisinya. Perkenalan ku dengan Senja berawal ketika aku memasuki sebuah universitas negeri kenamaan di Malang.  Kami satu jurusan, yaitu Ilmu Kedokteran. Dari sini lah, Senja mulai mengukir sebuah cerita di hatiku.

“Hai. Lo anak kedokteran juga kan?” tiba-tiba saja Senja menghampiri ku dengan wajah riangnya dan senyum manisnya. Ya Tuhan, bidadari dari surga mana yang kau jatuhkan dihadapapanku ini? Tubuh semampai, kaki bagaikan belalang, irisan matanya bagai pelangi, dan ya Tuhan, nyaris sempurna makhluk ciptaan mu satu ini. “Eh kok lo diem aja sih! Ditanya juga!” tiba-tiba saja bentakan Senja membangunkan aku dari khayalanku.

“Eh iya. Maaf-maaf. Iya, gue anak kedokteran. Kenapa?”

“Ohh. Iya kenalin, nama gue Senja, anak kedokteran juga. Nama lo siapa?” kata senja sambil menjulurkan tangan kanannya untuk bersalaman.

“Gue Fajar”, jawabku singkat sambil meraih tangan kanannya.

Perkenalan singkat ini terus berlanjut. Kemudian kami berada dalam satu kelompok untuk sebuah tugas Ospek fakultas. Ini lah yang kemudian mendekatkan kami dikemudian hari. Hari terus bergulir. Pagi berganti malam. Fajar berganti Senja. Siklus bulan juga berubah-ubah mengikuti periodenya. Senja tumbuh menjadi mahasiswi berparas cantik, supel, pandai, dan tentunya rajin menabung. Jangan dianggap sepele kerajinan Senja untuk menabungkan uangnya. Disuatu senja, ketika kami sedang duduk-duduk di pinggir danau Selorejo, Senja bercerita tentang keinginannya membangun sebuah Rumah Sehat untuk menampung manula dan anak-anak terlantar. Kecintaannya pada bidang sosial membuat dia begitu peka terhadap lingkungan disekitarnya. Ketika gadis lain seusianya sibuk untuk mempercantik diri dan menghiasi tubuh mereka dengan pakaian bermerek atau pakaian yang sedang hits saat itu, Senja lebih senang mempercantik hatinya dengan mengikuti bakti sosial atau sekedar datang kesebuah panti jompo atau panti asuhan dan menghabiskan waktu berhari-hari disana. Aku senang mendampingi Senja, karena seringkali Senja memberikan nilai kehidupan yang belum pernah aku temui.

Benih-benih cinta mulai tumbuh dihatiku. Tumbuh semakin subur disirami oleh senyum dan keikhlasan Senja. Diam-diam aku mencintai Senja. Merayapi bayangan Senja dengan cintaku. Mimpi ku selama berhari-hari ketika aku kenal Senja adalah aku ingin merayapi Senja dengan cinta dan kasih ini. Meninggalkan cinta dan kasih dalam diri Senja. Hanya itu. Kemudian setelah aku berpikir sampai tidak bisa berpikir lagi, aku memutuskan untuk menyatakan cinta kepada Senja. Aku sudah tak karuan jika memandang Senja dari balik kacamata ini. Siang-malam aku selalu dibayangi oleh Senja. Aku putuskan untuk menyatakan cinta ke Senja pada hari dimana ia berulang tahun, tanggal 22 Desember 2010.

Aku undang Senja ketempat dimana kita sering menghabiskan waktu bersama, dipinggir danau Selorejo, tepat dibawah Pohon Mahoni ini. Aku menyiapkan sedikit kejutan untuknya; sebuah kue tart kecil dengan lilin berangka 18, balon-balon berbentuk hati, dan sebuah hadiah boneka Teddy Bear untuknya. Senja yang baru tiba dan melihat ini tiba-tiba berteriak, loncat-loncat, dan hap! dia memelukku. Senja sempat menitikan air mata harunya untuk kejutan kecil ini yang dia bilang “yaaampuuuun Fajar. Ini so cute. Thanks so much!”. Setelah meniup lilin, aku langsung mengutarakan perasaanku. Dan ini sungguh tidak romantis. Sungguh.

“Senja, lo kan belom punya pacarkan ya?”

“Belom lah! Gimana gue bisa punya pacar, kalo lo ada terus disamping gue, yang ada tuh cowo-cowo pada takut deketin gue karena ngeliat muka lu! Makanya doain dong biar dapet pacar”, pinta Senja dengan wajah merengek

“Mau gak lo jadi pacar gue. Ya ya ya ya? Mau gak?”, kataku tanpa basa-basi dan tanpa kata-kata romantis seperti di film-film drama romantis.

Senja langsung bungkam. Air mukanya langsung berubah menjadi canggung. Salah tingkah. “Ya ampun Senja, kamu kalo lagi gini lucu banget! “, batinku. Tapi, sejujurnya aku takut jika pernyataan cinta ini akan merusak hubungan persahabatan kami atau menimbulkan rasa canggung diantara kami nantinya. Senja membalikkan badannya dari hadapanku, menatap lepas ke tepian danau dan angsa-angsa yang berenang menyusuri pinggir danau. Mencoba mencari jawaban hingga ke dasar danau.

“Lo kenapa kaya gini sih Jar? Kenapa lo juga ngerasain hal sama kaya gue?”, Senja membalikan badannya kehadapanku lagi.

“Hah? Apa Sen? Gak salah denger nih?”, kataku dengan mengguncang-guncangkan badan Senja.

“Iya, Fajar!”, dengan senyum manisnya, ia menerima cinta ku.

Wuhuuuu! Betapa senangnya ketika cinta ini bersambut dengan rasa yang sama. Kebahagiaan begitu menjadi sederhana untuk diterjemahkan. Hati ini bagaikan bom yang akan meledak, karena begitu banyak buncahan kesenangan yang meletup-leptup dalam hatiku.

Sore ini kami habiskan dengan menikmati senja di danau Selorejo dibawah pohon Mahoni, kemudian Senja memberi nama pohon Manoni ini dengan nama Fajar. Menurutnya, dari pohon ini cinta kami bersemi dan berkembang. Begitupula dengan fajar dimana matahari terbit membawa sejuta harapan baru bagi makhluk di dunia ini. Senja di danau Selorejo begitu mempesona, disaksikan oleh Gunung Anjasmoro, Gunung Kelud, dan Gunung Kawi, kami bertukar cerita, tawa, dan harapan. Senja mulai bergulir digantikan malam yang sunyi, menghabiskan sisa malam dengan kesunyian malam hingga pagi menjemput. Menghayalkan sampai kapan janji cinta kita bisa bertahan.

“….Malam jadi saksinya kita berdua diantara kata yang tak terucap dan berharap waktu yang membawa keberanian untuk yang tak tahu membawa jawaban cinta kita, ada kesempatan ucapkan janji tak akan pergi selamanya…” [i]

Disuatu siang aku menemani kegiatan rutin Senja mengunjungi panti asuhan anak-anak berkebutuhan khusus. Mendampingi Senja melakukan kegiatan seperti ini sungguh menyenangkan. Kadang aku merasa beruntung ketika melihat banyak laki-laki yang menemani kekasihnya pergi ke mall untuk belanja, sedangkan aku disini bersenang-senang bersama dan mendapatkan satu nilai kehidupan baru. Sore harinya kami pergi ke danau Selorejo dan duduk dibawah pohon Fajar. Tak jauh dari kami, pengamen pria remaja membawakan lagu It Will Rain dari Bruno Mars. Iringan gitarnya membuat sore ini menjadi begitu romantis. Senja menyandarkan kepalanya dipangkuanku, menceritakan segala hal yang menjadi keluh kesalnya, leluconnya, atau impian-impiannya.

Kemudian, hujan deras kemudian turun. Kami berlalri mencari saung-saung yang bisa menjadi tempat berteduh. Kamu tahu apa yang Senja lakukan ketika hujan ini? Dia menarik tanganku untuk keluar dari saung tempat kami berteduh dan mengajakku bermain dengan hujan bersama beberapa anak bocah laki-laki lainnya. Betapa senangnya aku ketika berada dibawah naungan hujan. Kuingat, terakhir aku bermain dibawah guyuran hujan adalah ketika aku kelas 6 SD dan sekarang aku mahasiswa tingkat dua ilmu kedokteran! Di derasnya hujan, aku tarik tubuh Senja kedalam pelukan ku, tiba-tiba saja aku ingin memeluk Senja. Kubenamkan Senja dalam pelukan eratku, kemudian ku kecup bibir mungil Senja. Senja hanya menatapku kebingungan. Selama kami berpacaran, baru kali ini aku mencium bibir seorang perempuan. Rasanya hangat. Saat ku kecup bibir Senja, ku kirim nafas ku kedalam tubuhnya, biar aku bisa terus bersemayam dalam dirinya sampai Senja menghembuskan nafas terakhir.

“I try but I can’t seem to get myself to think of  anything but you.. Your breath on my face your warm gentle kiss I taste.. The truth, I taste the truth..We know what I came here for…. So I won’t ask for more…”[ii]

Setelah hujan reda, kami pulang dengan mengendarai motor Honda CS-1 ku. Senja yang aku bonceng, merapatkan tubuhnya kepunggungku dan melilitkan tangannya ke pinggangku. Begitu hangatnya diriku dalam kedinginan ini. Setibanya aku di kosan Senja, aku jatuh pingsan dengan berlumuran darah yang keluar dari hidung dan telinga ku. Aku merasa bersalah ketika aku harus jatuh pingsan di tangannya dan melumuri baju putih Senja dengan darahku ini. Sekitar dua minggu terakhir aku merasakan sakit yang luar biasa di kepala ku. Kemudian aku jatuh koma. Sudah hampir 5 bulan ini aku tiertidur dalam koma, kanker yang aku derita sejak 8 tahun lalu kini mencapai puncaknya. Dokter memvonisku menderita kanker otak. Kanker otak yang aku derita akibat faktor genetis dan gaya hidupku dulu. Ayahku meninggal 10 tahun yang lalu akibat kanker otak, semenjak ayah meninggal, aku terperosok pada kesedihan yang amat mendalam. Aku kemudian banyak menghabiskan waktu dengan puluhan batang rokok dan belasan botol alcohol.  Beberapa terapi sudah aku lakukan, termasuk terapi obat dengan Avastin, kemoterapi, dan pengobatan tradisional lainnya.

Ya, sebelumnya aku memang tidak pernah menceritakan penyakit ini ke Senja, karena aku takut aku hanya akan menjadi beban dia dan mungkin Senja akan meninggalkanku. Bagiku, cukup melihat Senja bahagia, tertawa, atau ketika dia mengedipkan mata kebahagiaannya saja sudah menjadi obat yang ampuh bagi penyakitku ini. Sejak bertemu Senja, aku memutuskan untuk memberhentikan terapi-terapi yang aku lakukan. Jika aku terus melakukan terapi itu walaupun dengan sembunyi-bunyi, Senja akan tahu dari perubahan kulit aku akibat kemoterapi.

Dalam koma ku ini, aku menceritakan cerita ini, tentang Senja. Bagaimana bisa aku menceritakan Senja jika aku saja koma? Aku menitipkan cerita ini melalui mimpi ku, ketika aku bermimpi dalam koma ku. Aku rindu untuk bangun dari koma ku. Aku rindu untuk menggenggam tangan Senja, rindu menemaninya ke panti-panti, rindu duduk bareng dibawah pohon, rindu mendengar ceritanya. Ya RINDU!! Rindu sejak Senja tak pernah menghampiri aku lagi selama sebulan ini, bahkan senja juga enggan mengintip aku dari tirai-tirai jendela kamar ini. Aku tak tahu kapan Tuhan akan membangunkan aku dari koma ku ini, ya aku tak tahu. Yang ku tahu, ketika aku terbangun, aku ingin menemui Senja. Titik. Tidak, tidak jadi titik, atau cerita tentang Senja ini hanyalah mimpi panjangku dalam koma ku yang belum berujung? Mungkin. Realitas dan mimpi sulit untuk dibedakan ketika Jiwa melayang mencari tubuh yang baru untuk bernaung. Mungkin.


[i] Lirik dalam lagu Berdua Saja, Payung Teduh

[ii] Lirik dalam lagu I wanna be With You, dipopulerkan oleh Mandy Moore

Bogor, 13 Juni 2012

***Berlanjut dalam  cerita Sinar Fajar dan Mentari***

Face and The other Emmanuel Levinas

Image            Emmanuel Levinas lahir pada tahun 1906 di Kaunas Lithuania, dalam keluarga keturunan Yahudi. Lithuania pada waktu itu termasuk Rusia di bawah pemerintahan Tsar dan merupakan daerah di mana agama Yahudi dan studi Talmud berakar kuat. Bahasa Rusia adalah bahasa ibu bagi Levinas. Levinas dibesarkan dalam tuntunan Alkitab Ibrani dan pengarang-pengarang klasik Rusia, Tolstoi dan Puschkin. Beberapa tahun lamanya ia disekolahkan di daerah Ukraina di mana ia menyaksikan peristiwa-peristiwa sekitar revolusi Rusia (1917), dan ia menyelesaikan sekolah menengah di tempat asalnya, Kaunas.

            Pada Tahun 1923, ia berangkat ke Prancis untuk studi filsafat yang kemudian ia mendapatkan kewarganegaraan Prancis. Pemikiran Levinas dipengaruhi oleh Husserl, Heidegger, dan juga Dostoyevsky. Pemikiran Levinas berorientasi pada etika. Ia kemudian meninggal pada tanggal 25 Desember 1995.

            Pikiran-pikiran pokok Levinas tergambar melalui beberapa term seperti wajah, the other, infinity, dan totality. Pemikiran Levinas berpusat pada etika. Dalam pemikiran Levinas berbeda dengan para filosof sebelumnya yang berorientasi pada Aku atau biasa disebut sebagai egologia dimana ego merupakan pusat pembahasan para filsof waktu itu. Ia juga berpendapat bahwa filsafat pada awalnya bukanlah metafisika, melainkan etika. Akan tetapi, dalam etika Levinas kita menemukan hal yang berbeda, yaitu pembahasan Levinas bukan mengenai yang baik atau buruk, melainkan relasi yang terjadi pada manusia.

            Pikiran pokok pertama Levinas yaitu mengenai infinity dan the other. Hubungan antarpersonal manusia didasari oleh hubungan Aku-“Yang Lain” (L’un pour l’autre). Dalam egologia, meruduksi semua hal pada totalitas dan mengesampingkan perbedaan. Totalitas ditempatkan sebagai puncak dari egologia yang sering mengorbankan “yang tunggal” pada sistem. Akan tetapi menurut Levinas, totalitas ini bisa dihancurkan oleh yang tak terhingga. Yang tak terhingga adalah the other, yang berbeda dengan saya, berada diluar diri saya yang berakibat runtuhnya totalitas saya ketika berjumpa dengan orang lain. Yang tak terhingga merupakan sesamam manusia yang mengajak diri kita untuk keluar dan melihat realitas yang ada. Untuk merumuskan kejadian ini, Levinas menggunakan istilah wajah (face).

            Menurut Levinas, the other mengungkapkan diri dan memanifestasikan diri. Kehadirannya tidak berbeda dengan benda-benda objektif lainnya. Disini wajah merupakan kehadiran langsung dari the other yang menandakan bawa ada orang lain yang berbeda dari kita. Ketika kita berjumpa dengan wajah, maka kita akan menerima wajah sebagaimana mestinya ketika ia hadir dihadapan kita. Dengan demikian, perjumpaan kita dengan wajah akan mengundang kita untuk menyapa the other dan kita tidak bisa menguasainya. Tentunya wajah yang lain mempunyai karakteristik yang berbeda dengan kita. Wajah yang hadir dihadapan kita merupakan wajah yang “telanjang” dan “luhur”. Telanjang karena ia adalah ia yang lain dari saya tanpa sesuatu apapun yang jadi pengantara. Luhhur karena ia tidak bisa didiamkan saja atau dikesampingkan. Karena hal ini, kita dituntut untu berlaku etis. Wajah-wajah yang hadir dihadapan kita membuat kita tidak berdaya. Wajah-wajah tsb juga ingin diperlakukan sama dengan yang lainnya dengan rasa memelas dan keadilan. Dengan adanya “ketelanjangan wajah” adalah juga kehadiran yang “membutuhkan” di dunia ini: semua orang. Hal-hal tersebut diilhami Levinas sebagai usaha untuk memahami dan mengeksplitasi keunikan yang dimiliki manusia dan merupakan eksploitasi terhadap keunikan yang dimiliki manusia.