Gabriel Marcel: Eksistensi Orang yang Sudah Meninggal

Siapa Gabriel Marcel? Gabriel Marcel adalah filsuf asal Prancis. Marcel dilahirkan di Paris pada tahun 1889. Ayahnya merupakan seorang Katolik dan ibunya seorang Yahudi. Marcel merupakan filsuf fenomenologi dan eksistensialisme terkenal di Paris. Bagi saya, Marcel merupakan filsuf paling romantis sepanjang saya mempelajari filsafat. Tidak ada filsuf lain yang bisa mengalahkan keromantisan Marcel. Hehehe 😀 Berikut ini ulasan singkat mengenai pemikiran Marcel tentang kematian. Ulasan ini merupakan tugas Eksistensialisme. Selamat menikmati.

Menurut Marcel, orang yang sudah meninggal tetap mempunyai eksistensi pada orang yang masih hidup. Hal ini bergantung pada bagaimana manusia tsb memandang orang yang sudah meninggal. Ada dua hal mendasar dan penting bagi Marcel, yaitu Having dan Being. Jika manusia tersebut hanya menerima orang yang sudah meninggal dinamakan Having. Having merupakan sekedar asimilasi dan sesuatu yang diobjektivikasikan terhadap yang kita punya. Kematian disisni, jika dipandang dari Having, manusia yang masih hidup menganggap kematian tersebut sudah melebur atau berasimilasi kepada orang yang mati itu. Karena hal itu, eksistensi orang yang mati tidak bisa hadir ditengah-tengah orang yang hidup.

Berbeda dengan Being. Jika orang yang masih hidup dan menganggap orang yang mati sebagai being, eksistensinya masih akan tetap hadir. Being adalah bagaimana kita memandang manusia secara keseluruhan dan eksistensinya selalu hadir (presence) dan utama (primary). Jadi, walaupun kematian sudah menjadi hal yang melekat pada orang yang telah mati, namun, Being orang tersebut selalu hadir dalam orang yang masih hidup.

Eksistensi orang yang sudah mati akan tetap hadir dalam orang yang masih hidup apabila ada sesuatu dari orang yang sudah mati menyatu (uniting) dengan orang yang masih hidup. Selain itu kematian tidak hanya diajadikan sebuah problem bagi orang yang masih hidup dengan mereduksi apa yang ada di dunia, melainkan dengan menjadikan kematian sebagai mystery. Jika sudah menjadi mystery, sesuatu dimana orang tersebut telah terlibat didalamnya dan tidak ada lagi perbedaan dimensi dunia antara orang yang masih hidup dan yang telah mati.

Mercel juga mengungkapkan bahwa eksistensi orang yang sudah mati bisa akan tetap hadir apabila ada sesuatu yang uniting dan dibarengi dengan adanya creative fidelity (kesetiaan). Kesetiaan disini adalah kesetian orang yang masih hidup dengan yang sudah mati walaupun banyak pertentangan yang hadir dari dunia eksternal. Kesetiaan yang menghadirkan Being dari orang yang sudah mati dan tidak serta merta menerima kematian sebagai mystery. Penjamin dari creative fidelity adalah hope. Harapan yang terus tumbuh dalam orang yang masih hidup untuk selalu setia kepada yang sudah mati .

Contoh cerita supaya lebih mudah memahami

  1. Srintil mempunyai kekasih yang bernama Rasus. Keduanya sudah berteman dari kecil. Rasus sudah berjanji kepada Srintil bahwa ia akan menikahi Srintil. Namun sebelum pernikahan itu terealisasikan, Rasus diangkat menjadi tentara dan ditugaskan di luar desa Dukuh Paruk. Tak lama kemudian, Rasus dikabarkan meninggal saat berperang. Srintil merasa sedih karena ditinggal sendiri, akan tetapi Srintil juga masih merasakan Rasus masih hadir disisinya. Hal ini bisa dikarenakan karena hubungan yang terjalin diantara Srintil dan Rasus cukup lama. Kehadiran Rasus pada disisi Srintil adalah Being dari Rasus. Srintil memaknai Rasus secarah keseluruhan dan telah bersatu (uniting) terhadap dirinya. Srintil juga tetap setia kepada Rasus (creative fidelity). Srintil menganggap kematian Rasus sebagai sebuah mystery, bukan problem.
  2. Bayu adalah seorang gitaris dan vocalis handal dan terkenal dari salah satu band music yang terkenal. Kecintaan Bayu pada musik yang menjadikannya seperti sekarang ini. Akan tetapi, nasib malang menyambangi Bayu. Bayu mengalami kecelakaan yang mengakibatkan dirinya tidak dapat bermain musik lagi. Bayu tidak begitu saja menyerah pada takdir, ia tetap mempunyai semangat dan harapan untuk terus berkarya dalam musik lagi. Harapan ini lah yang membuat bayu tetap setia pada kecintaannya pada musik dan terus bertahan untuk bisa sembuh dan kembali berkarya.
  3. Timnas Indonesia dalam sebuah pertandingan sepak bola mengalami kekalahan pada babak pertama dengan tim lawan 1-4. Selain itu pemain juga banyak yang cedera dan hal ini mengakibatkan mental turun. Tentu saja situasi seperti ini bisa mengakibatkan keputus asaan yang lebih cepat. Namun, pemain Timnas tidak begitu saja langsung berputus asa. Mereka mempunyai creative fidelity untuk terus berjuang dan mengharumkan nama bangsa. Selain itu, creative fidelity mereka didukung juga oleh harapan. Harapan ini lah yang akan terus mendukung Timnas untuk terus bertahan dan mengharumkan nama bangsa. Harapan ini muncul dalam diri mereka sendiri sebagai penjamin creative fidelity untuk mencapai kemenangan.