Bila diterjemahkan kalimat “Man is a rope stretched between the animal and the superman” akan menjadi manusia adalah jembatan yang terbentang antara hewan dan manusia unggul. Kalimat ini tertera dalam salah buku popular dari Nietzsche yang berjudul Thus Spake Zarathustra. Sebelum kalimat ini muncul, Nietzsche mengatakan God is dead! yang kemudian menjadi terkenal seantero dunia. Dalam buku ini ada seorang manusia unggul yang ia ciptakan bernama Zarathustra. Manusia yang selama ini ia impikan, manusia yang bisa memenangkan dirinya sendiri.
Nietzsche menekankan pada kehendak manusia untuk mencapai kekuasaan sebagai kekuatan yang menggerakan dunia. Nietzsche juga menolak institusi agama karena agama membuat manusia tidak bebas dan menunjukan gugatan Nietzsche tentang manusia, kebebasan, dan tanggung jawab.
Nietzsche tidak menyukai manusia-manusia yang terkungkung dalam dogma-dogma agama yang berkasihan-kasihan, lemah, tidak bebas dan takut akan dosa. Menurut Nietzsche hal ini akan membatasi manusia dalam membentuk dirinya menjadi manusia unggul. Menurut Nietzsche agama hanyalah tempat pelarian bagi manusia untuk melemparkan tanggung jawabnya. Moralitas yang ada pada agama seperti untuk tidak membalas, berkasihan, kerelaan hati, hanyalah sifat-sifat dari budak. Oleh karena itu hadirlah konsep manusia unggul (ubermensch). Ubermensch yang dimaksud disini adalah manusia sesudah manusia yang kita kenal, yang merupakan manusia masa lampau dan masa sekarang yang ditandai oleh moralitas budak yang berakar dalam kepercayaan kepada Allah. “manusia diseberang manusia” ( Franz Magnis, Menalar Tuhan, 76).
Manusia unggul adalah manusia yang berani menghadapi dunia, yang tidak berpasrah diri pada dogma-dogma agama. Nietzsche ingin keluar dari keterbatasan dirinya. Konteks terpentingnya adalah “kehendak” itu sendiri. Seperti yang dikatakan oleh Nietzsche ada dua jenis manusia; Herd mentality dan Master mentality. Herd mentality hanyalah kerumunan untuk menjaga hidup dalam ketenangan, sedangkan master mentality adalah filsuf yang mempunya philo-nya sendiri. Untuk dapat menjadi manusia unggul diperlukan master mentality dimana manusia harus terbebas dari rasa berdosa dan kecemasannya untuk mengeksplor dirinya. Manusia juga mempunyai naluri alamiah seperti hewan. Naluri ini bisa digunakan manusia dalam menghadapi kehidupan yang penuh akan pilihan dan bahaya. Namun naluri ini sangat berbeda dengan yang dimiliki oleh hewan, manusia menggunakan naluri ini dengan menggunakan rasionya. Dengan menggunakan naluri alamiah yang berdasarkan rasio, manusia berusaha untuk menyebrangi atau melampaui manusia masa lampau dari sifat-sifat budak untuk memenangkan dirinya sendiri.
